Meskipun perutnya lapar, nafsu makan Ziana tetap terpengaruh oleh rombongan Farel. Setelah beberapa suap makanan pedas, air matanya menetes. Sebagian karena pedas, sebagian karena sedih. Dia tahu dirinya harus lebih tegar. Namun, setiap kali dia mencoba menarik garis tegas dengan mereka, kenangan masa lalu saat mereka bersama-sama selalu muncul.Saat Keluarga Syardan bangkrut, hidupnya sangat sulit. Di sisinya saat itu hanya ada Farel dan teman-teman ini. Tawa dan canda mereka saat duduk bersama masih terekam jelas di ingatannya. Namun, kenyataan memberi tahu bahwa cinta masa muda tidak bisa diandalkan, begitu juga dengan persahabatan. Dia merasa dirinya benar-benar malang.Tiba-tiba, telepon dari Direktur masuk. Ziana menyeka sudut matanya, menarik napas dalam, dan mengangkat telepon. "Halo, Bu Aryani." "Ziana, bagaimana lukamu?" "Sudah baik-baik saja. Ada apa, Pak?" Ziana segera masuk ke mode kerja."Dua hari lagi, ada tamu sangat penting yang akan menginap di vila resor.
Read more