Ziana tahu, dia tidak bisa menghindar. Namun, telapak tangannya terasa perih karena kuku yang dia tancapkan sendiri. Dia tahu betul maksud Farel, untuk membangun wibawa Silvia di depan umum. Dan itu dilakukan dengan menginjak harga dirinya. Mungkin di mata pria itu, harga dirinya sudah tidak ada harganya lagi.Dia berjalan ke arah meja. "Tuan Farel, setelah minum ini, apa saya boleh pulang untuk istirahat? Saya merasa kurang enak badan." "Jangan sisa setetes pun, baru kamu boleh pergi."Farel mendengus dalam hati. Semakin berani melawan saja dia, memang harus diberi pelajaran soal sifat keras kepalanya itu. Farel tahu kapasitas minum Ziana. Dengan minuman sekeras ini, baru setengah gelas saja pasti Ziana sudah akan memohon ampun padanya. Saat itu, dia tinggal menegurnya sedikit, sekaligus membuat Silvia senang.Merasa tidak ada gunanya bicara lagi, Ziana mengangkat gelas dan meminumnya. Saat gelas sudah setengah kosong, wajah Farel justru semakin muram. Hingga akhirnya, Ziana
Read more