Ziana sadar betul bahwa sebagai tersangka, dia tidak berhak menolak. Melihat Vihan hendak bicara, dia menarik tangan pria itu dan menggeleng kecil. Namun saat berdiri, dia refleks mempererat genggamannya pada tangan Vihan.Vihan tidak banyak bicara, dia hanya menyampirkan mantel besarnya ke bahu Ziana. Saat merapikan pakaian gadis itu, tatapan dinginnya menyapu para polisi tersebut, berakhir pada saku mereka. Menangkap tersangka memang hak mereka, tapi jika ada niat terselubung, itu bukan lagi urusan hukum.Polisi itu tampak merasa diawasi dan refleks memiringkan tubuh, namun tetap terekspos. Vihan berkata dengan nada dingin yang menekan, "Keluarga Danuarta dan Keluarga Anggara punya hubungan lama. Aku sudah bicara dengan atasan kalian, pastikan kasus ini ditangani dengan benar."Nyali para polisi itu seketika menciut. "Nona Ziana, silakan." Vihan menunduk menatap Ziana, suaranya sedikit meninggi saat berkata, "Di sana dingin, pastikan mantelnya dipakai dengan benar." Seolah mem
Read more