"Percaya." Tanpa sepatah kata tambahan, Vihan langsung pergi setelah mengucapkannya. Gisel menatap pintu yang perlahan tertutup dengan penuh pemikiran.Beberapa menit kemudian, dia bangkit dan menelepon pelayan tua yang selalu merawatnya dan ibunya. "Bibi Mirna, sebelum Ibu pergi menemui Ziana, apa dia sempat mengatakan atau melakukan sesuatu?"Suara Bibi Mirna terdengar terisak, jelas masih terpukul atas kematian Nyonya Paula. "Tidak ada." "Coba ingat-ingat lagi," desak Gisel."Dia ... oh iya, bros kesukaan ibumu, yang dirancang oleh desainer perhiasan terkenal di Kota Jiles. Biasanya dia memakai itu setiap hari, tapi tepat sebelum menemui Ziana, dia melepasnya. Dia memintaku menyimpannya di brankas bank.""Bros?" Gisel teringat bros ibunya yang bentuknya bisa diubah-ubah. Berlian di sana adalah pemberian ayahnya dulu, dan ibunya sengaja menyewa desainer agar perhiasan itu bisa menjadi bros, kalung, atau gelang. Orang lain mencocokkan perhiasan dengan baju, tapi ibunya mencoc
Read more