"Aku enggak tahu kalau akhirnya jadi begitu, Sab. Aku pikir setelah nenek kalian meninggal, Ganda akan mengajakmu tinggal dengan ayah kalian. Setidaknya, itu yang dilakukan seorang kakak laki-laki, bukan?" Suara Riko rendah, membawa nada penyesalan yang tulus. Ia menyandarkan punggungnya pada pagar balkon kamar, membiarkan angin laut Surabaya memainkan ujung kemejanya. Di tangannya, cangkir kopi yang sudah mendingin ia genggam erat. Sabrina tidak langsung menjawab. Ia justru mendongak, menatap langit malam yang bersih tanpa bintang, lalu tawa kecil keluar dari bibirnya. Itu bukan tawa bahagia, melainkan tawa hambar yang menyakitkan."Bahkan aku enggak tahu apa Ayah masih hidup atau enggak, Bang," sahut Sabrina sambil terbahak getir. Matanya menyipit, membayangkan sosok pria yang dulu ia panggil Ayah, yang kini hanya menjadi bayangan buram. "Bang Ganda? Mengajakku tinggal dengan Ayah? Mana mungkin. Dia saja benci sekali dengan Ayah kami.”Riko tertegun. Ia melet
最終更新日 : 2026-03-20 続きを読む