Suasana di dalam kabin sedan mewah itu berubah drastis, seolah oksigen di dalamnya mendadak tersedot habis. Cengkeraman tangan Kael pada pergelangan tangan Sabrina tidak lagi terasa seperti bentuk kecemburuan, melainkan sebuah peringatan mati yang kaku. Sabrina bisa merasakan suhu tubuh Kael yang menghangat melalui permukaan kulitnya, namun aura pria itu sedingin es. Di depannya, Teguh bukan lagi seorang sopir yang hobi bercanda soal pisang goreng. Bahunya tegap, matanya menyipit fokus pada spion, dan jemarinya mencengkeram kemudi dengan erat."Teguh, batalkan ke kantor. Kita alihkan ke 909. Sekarang," suara Kael rendah, hampir seperti desisan predator yang sedang terdesak. Tanpa bertanya, Teguh membanting setir ke kiri, memotong jalur sebuah bus kota hingga menimbulkan suara klakson yang memekakkan telinga. Mobil itu melesat, masuk ke celah sempit di antara gedung-gedung tinggi, menghindari kemacetan utama jalanan Jakarta yang mulai mengular. Di bel
Zuletzt aktualisiert : 2026-03-15 Mehr lesen