LOGINRuang kerja Kael diselimuti kegelapan yang pekat, hanya menyisakan siluet perabotan kayu ek yang kaku di bawah siraman cahaya bulan dari jendela besar. Kael duduk mematung di balik meja kebesarannya, namun pikirannya tidak tertuju pada tumpukan dokumen yang menuntut tanda tangannya. Setiap kali detak jam dinding berbunyi, dentumannya seolah menghujam dada Kael, mengingatkannya pada detik-detik yang merayap menyiksa Sabrina di bawah sana. Kael nyaris membanting gelas kristal di tangannya hingga remuk. Ia tahu neneknya sedang mengujinya. Meskipun begitu, tetap saja hatinya gundah. Sementara di sisi lain rumah, Gladis melangkah dengan keanggunan yang dipaksakan menuju kamar Nyonya Maureen. Ia merasa berada di atas angin, yakin bahwa kepatuhan Kael pada perintah sang nenek ad
"Pulanglah, Nak. Orang-orangku sendiri yang akan mengantarkan adik kesayanganmu kembali. Percayakan padaku." Suara Nyonya Maureen mengalun lembut namun penuh otoritas, membelah deru hujan yang masih menyisakan sisa-sisa badai. Ia berdiri tegak dengan payung hitam yang melindunginya, menatap Ganda dengan binar mata yang berbeda dari tatapan dingin yang ia tunjukkan pada Kael sebelumnya. Ada kehangatan purba di sana, sebuah janji tersirat yang hanya bisa dipahami oleh sesama pelindung."Aku tidak percaya siapa pun," tegas Ganda. Suaranya serak, matanya merah menahan amarah dan kekhawatiran. Tangannya masih mengepal di sisi tubuh, seolah siap menarik Sabrina kembali dari ambang pintu maut itu kapan saja. Nyonya Maureen tersenyum lembut, sebuah senyuman yang jarang sekali ia perlihatkan di depan umum. Ia melangkah mendekati Ganda.
Kael mengangkat senjata laras panjang di tangannya. Moncong logam dingin itu terarah tepat ke titik di antara kedua mata Sabrina."Satu langkah lagi," geram Kael, suaranya menggelegar menembus suara hujan, "dan aku akan memastikan kau menyusul orang-orangku yang tewas!" Ganda bergerak hendak melindungi adiknya, namun Sabrina justru mengulurkan tangan, menahan lengan kakaknya. Ia justru maju satu langkah, membiarkan dadanya hampir menyentuh garis imajiner peluru Kael."Tarik pelatuknya jika itu memang bisa mengobati lukamu, Tuan Kael," suara Sabrina terdengar sangat tenang, hampir seperti bisikan namun tajam menusuk. "Tapi sebelum kau melakukannya, kau harus tahu bahwa kau sedang membunuh satu-satunya orang yang datang ke sini untuk menghentikan kegilaan ini.""Berhenti bersandiwara!" bentak Kael. Jemarinya menegang pada pel
Pencahayaan di dalam kabin utama kapal pesiar itu terlalu terang, menyakitkan mata Sabrina yang sembab dan kering. Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, hal pertama yang ia rasakan adalah aroma makanan mewah yang memenuhi ruangan. Foie gras dan jus buah segar yang aromanya justru memicu mual hebat di perutnya. Di ujung meja, Adrian Pratama duduk dengan tenang, memotong daging dengan gerakan elegan seolah-olah dunia di luar sana tidak sedang terbakar."Makanlah, Sabi. Kau butuh tenaga untuk perjalanan jauh kita," ucap Adrian tanpa mendongak. Sabrina tidak bergerak. Ia menatap piring di depannya dengan tatapan benci yang murni. Dengan satu gerakan sentakan kasar, ia mendorong piring porselen itu hingga jatuh ke lantai marmer kabin.Prang! Serpihan piring dan makanan mahal itu berhamburan, namun Adrian hanya menghentikan gerakannya sejenak, lalu meletakkan pisau kembarnya."Aku lebih baik mati kelaparan daripada menelan satu butir nasi pun
"Kael!!" Jeritan Gladis melengking di antara desing peluru yang menghantam pilar beton koridor lantai dua. Namun, suaranya yang parau segera tenggelam oleh dentuman granat yang meledak di ujung lorong, menciptakan gelombang panas dan serpihan kaca yang berterbangan seperti hujan kristal yang mematikan. Gladis terhuyung, kruknya terlepas, dan ia nyaris terjerembap tepat saat bingkai jendela di sampingnya hancur berkeping-keping. Tepat sebelum pecahan kaca itu merobek kulitnya, sebuah tangan kekar menyambar bahu Gladis, menariknya dengan sentakan kasar hingga ia terseret ke bawah meja kayu jati yang kokoh di sudut koridor. Gladis terengah, matanya membelalak ketakutan mendapati sosok pria yang baru saja menyelamatkannya.“Kau??”
Suara sirine keamanan kediaman O’Shea menderu rendah, menyatu dengan gemuruh guntur yang mulai pecah di langit Jakarta. Di dalam ruang monitor yang kedap suara, Kael berdiri tegak, membelakangi kegelapan. Cahaya biru dari puluhan layar CCTV memantul di wajahnya, mempertegas garis rahang yang mengeras dan sorot mata yang tak lagi menyisakan ruang untuk belas kasih. Layar utama menampilkan kekacauan di gerbang depan. Sekelompok pria berpakaian taktis hitam dengan persenjataan lengkap bergerak dengan presisi militer. Kael mengenali pola serangan itu. Itu adalah unit bayaran terbaik milik Adrian Pratama."Tuan, pintu gerbang barat hampir jebol. Mereka menggunakan peledak termit," lapor Victor. Suaranya tenang, namun ada nada urgensi yang tertahan. Kael tidak berk







