"Duduk di sana. Jangan bergerak sebelum aku selesai bicara," suara Kael rendah, namun sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang mendengarnya.Sementara Rani yang tadinya menggebu-gebu membela harga diri Sabrina, kini benar-benar membeku. Nampan pembersih di tangannya bergetar hebat. Ia melirik Sabrina dengan tatapan minta tolong, namun gadis itu sendiri hanya bisa menunduk dalam, meremas pakaian kerjanya yang masih ia peluk erat.Kael melangkah mendekati Rani, melewati Sabrina tanpa menoleh sedikit pun. Ia berhenti tepat di depan petugas kebersihan itu, memberikan tekanan mental yang luar biasa hanya dengan keberadaannya. "Jadi, menurutmu aku memanfaatkan asistenku sendiri? Merusak masa depannya di dalam kantor ini?""Ma-maaf, Pak... saya... saya cuma khawatir sama Sabrina," cicit Rani dengan suara yang nyaris hilang."Khawatir?" Kael mendengkus. "Khawatirlah pada pekerjaanmu sendiri. Karena mulai detik ini, kau punya tugas tambahan. Bersihkan seluruh kaca balkon di lantai in
Zuletzt aktualisiert : 2026-03-24 Mehr lesen