LOGINMalam di lantai teratas gedung O’Shea Group hanya menyisakan dengung pelan pendingin ruangan. Kael bersandar di kursi kebesarannya, menyesap kopi hitam yang sudah mendingin. Matanya tidak lagi tertuju pada layar monitor yang menampilkan grafik saham, melainkan pada pemandangan tak biasa di sudut sofa ruang kerjanya.
Di sana, Sabrina masih tetap pada posisi terakhirnya saat mereka berdiskusi beberapa saat lalu. Blazer hitamnya tersampir sembarang di lengan sofa. Gadis"Anak burik! Kasihan sekali ya. Ibunya meninggal, eh ayahnya langsung nikah lagi!" Cemoohan itu terngiang, melengking di antara suara tawa anak-anak di pemakaman yang masih basah. Sabrina kecil hanya bisa menunduk, meremas pinggiran bajunya yang kumal, menatap tanah merah yang masih basah di bawah kakinya. Ibunya baru saja dikubur, namun dunia sudah menelanjanginya dengan kenyataan pahit. Lalu, memori berpindah pada sebuah perjalanan larut malam di dalam angkutan umum yang sempit dan berbau apek. Cahaya lampu jalan yang remang masuk melalui jendela, menerangi wajah abangnya yang kaku dan penuh amarah yang tertahan."Bang, kita mau ke mana? Aku mau nungguin ayah. Ayah janji mau pulang kalau urusannya sudah selesai," rintih Sabrina kecil dengan suara serak karena terlalu banyak menangis.&n
"Maaf, Tuan. Saya tadi mencari udara segar di balkon dan..""Udara segar sampai harus menghilang selama tiga puluh menit saat acara inti dimulai?" potong Kael tajam. "Kau di sini sebagai perwakilan resmi, bukan tamu yang bisa seenaknya keluyuran."Riko yang merasakan ketegangan itu mencoba menengahi dengan suara tenang. "Tenanglah, Pak Kael. Sabrina tadi bersama saya. Dia hanya sedikit pusing karena suasana yang terlalu ramai."Kael akhirnya menoleh pada Riko, namun hanya untuk memberikan tatapan meremehkan yang sangat tipis. "Dia tanggung jawabku selama acara ini berlangsung. Dan sebagai asistenku, dia harus berada di jangkauan pandanganku, bukan pria lain." Suasana di antara mereka bertiga mendadak menjadi medan magnet yang saling tolak-menolak. Sabrina merasa terjepit di tengah ego dua pria besar ini. Sebelum Riko sempat membalas, Kael sudah mengambil langkah maju.&n
Jantung Sabrina berdegup liar, memukul-mukul rongga dadanya dengan ritme yang menyakitkan. Sosok pria di bawah lampu jalan itu, siluet yang menyalakan rokok dengan kemiringan kepala yang begitu spesifik, terlalu identik dengan hantu dari masa lalunya. Tanpa berpikir panjang, adrenalin mengambil alih akal sehatnya. Sabrina berbalik, mengabaikan rasa nyeri yang mulai menusuk tumitnya akibat sepatu hak tinggi 10 sentimeter itu.Ia berlari kecil menyusuri koridor balkon yang panjang, lalu menuruni tangga darurat dengan terburu-buru. Di tengah jalan, ia mengerang pelan karena kakinya terasa seperti menginjak paku. Tanpa memedulikan etiket, Sabrina melepas kedua sepatunya. Ia menenteng heels perak itu di tangan kanan, lalu berlari bertelanjang kaki di atas karpe
"Saya rasa urusan fitting sudah selesai, Tuan," sahut Sabrina. Suaranya datar, sedingin lantai marmer yang ia pijak. "Saya harus melepas gaun ini sebelum jadwal istirahat saya dimulai.""Belum," potong Kael pendek. Kalimat itu terdengar seperti vonis. Kael melangkah maju, melewati Gladis yang masih berdiri gemetar dengan kruknya. Aura dominasinya memenuhi ruangan, seolah-olah guncangan emosional Gladis barusan hanyalah gangguan kecil di radar profesionalnya."Bawa draf auditnya ke meja. Kita selaraskan poin terakhir malam ini juga. Perwakilan Jerman tidak akan memberimu ruang untuk ragu besok malam.""Kael, bisakah kau antarkan aku ke kamar dulu?" sela Gladis. Suaranya mencicit, wajah memelasnya kembali dipasang sebagai tameng terakhir agar perhatian Kael tidak sepenuhny
Gedoran di pintu ruang kerja itu tidak kunjung berhenti. Kael tidak segera bergerak untuk membukanya. Ia justru tetap mematung di depan Sabrina, menatap asistennya itu dengan isyarat tajam agar tetap diam di tempat. Jarak mereka yang hanya terpaut beberapa inci membuat Sabrina bisa merasakan ketegangan yang merambat dari tubuh pria itu."Kael! Buka pintunya sebentar. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," suara Gladis terdengar dari luar. Nada bicaranya sangat tenang, bahkan terdengar sangat peduli seolah-olah gedoran keras tadi hanyalah wujud dari rasa antusiasnya. Sabrina meremas kain sutra gaunnya. Gladis benar-benar ahli dalam menjaga nada suaranya tetap manis, meskipun gedoran pintunya barusan mencerminkan kegelisahan yang nyata. Ia melihat rahang Kael mengeras, namun pria itu tetap tidak melepaskan tatapannya dari mata Sabrina."Kael? Aku tahu kau di dalam. Tolong buka pintunya dong," lanjut Gladis lagi. Kali ini suaranya merendah, menunjukkan sisi profes
“Tidak, ini ada yang salah ‘kan? Aku adalah orang yang berhak untuk itu. Kael atau orang di butik sana pasti salah menuliskan nama,” desis Gladis, suaranya bergetar antara malu dan amarah.“Maaf, Nona. Paket ini memang ditujukan khusus untuk Nona Sabrina,” ucap sang petugas keamanan dengan nada yang sangat hati-hati. Ia melangkah melewati Gladis yang tangannya masih terulur kaku di udara, lalu menyerahkan kotak besar bersegel emas itu langsung ke hadapan Sabrina. Sementara itu senyum lebar di wajah Gladis luntur seketika.“Sabrina, itu paket darurat yang aku pesan tadi siang. Bawa ke atas sekarang.” Suara bariton yang berat barusan memecah ketegangan. Kael berdiri di balkon lantai dua, masih memegang ponsel di tangan kiri sementara tangan kanannya bersandar di pagar pembatas. Ia men







