Jeritan kecil Sabrina teredam begitu saja ketika Kael menarik tubuhnya mendekat, mengikis habis jarak yang tersisa di antara mereka. Alih-alih menjawab protes istrinya, Kael justru menyeringai tipis, lalu menundukkan kepala. Detik berikutnya, dia melancarkan jurus maut yang paling tidak bisa ditolak oleh Sabrina; melakukan tarian lidah yang lembut namun menuntut di ceruk leher wanita itu. "Kael... geli... stop, ah!" Sabrina menggeliat, mencoba menjauhkan lehernya yang sensitif. Namun, cengkeraman tangan Kael di pinggangnya justru semakin erat, mengunci posisinya dengan sempurna di dalam kepungan busa hangat. "Ini hukuman karena kau berani kabur ke sini, Sayang," bisik Kael parau, suaranya terdengar sangat seksi tepat di lubang telinga Sabrina. Sentuhan lidahnya berpindah dari ceruk leher naik ke daun telinga, memberikan kecupan-kecupan basah yang membuat bulu kuduk Sabrina meremang seketika. "Aku tidak kabur, aku hanya... ahh... Kael, dengar dulu..ssh" Kalimat Sabrina kembali te
Mehr lesen