"Ya Tuhan! Aku pikir ini mimpi. Aku masih ingat bagaimana Mas jatuh waktu itu. Darahnya banyak sekali, Mas," suara Sabrina terdengar renyah, membawa nada ceria yang sudah lama tidak terdengar. Di bawah naungan pohon pinus yang menjulang di halaman rumah kayu itu, sikap Sabrina berubah drastis. Beban berat yang biasanya menggelayuti bahunya seolah menguap begitu saja. Ia kembali menjadi Sabrina tiga tahun lalu, gadis energik dengan seragam OB yang selalu punya cerita untuk dibagikan. Ia bergerak lincah di sekitar Teguh, sesekali memastikan asisten Kael itu benar-benar nyata.Teguh tersenyum kaku, tangannya bertautan di depan tubuh. "Saya sudah bilang, Nona. Saya ini liat. Peluru itu cuma numpang lewat.""Liat bagaimana? Dua minggu di ICU itu bukan waktu yang sebentar!" Sabrina mencebikkan bibir, ekspresi protesnya persis seperti dulu. "Aku merasa bersalah sekali karena tidak bisa berbuat apa-apa waktu itu.” Teguh tertawa kecil, meski matanya sesekali melirik ke
閱讀更多