LOGINPintu apartemen terbuka lebar. Rama melangkah masuk dengan penampilan yang sangat rapi. Ia memakai kemeja biru muda yang disetrika licin dan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Langkahnya langsung terhenti saat melihat ke arah meja makan. Di sana berdiri Kael Mahendra O’Shea. Sosok yang biasanya terlihat sangat berkuasa itu kini tampak berantakan. Kaos putihnya basah terkena cipratan air hingga memperlihatkan bentuk perutnya. Wajahnya terkena noda hitam, dan yang paling mencolok adalah celemek merah muda bergambar bunga milik Sabrina yang masih melilit pinggangnya."Maaf, Sab," Rama membuka suara dengan nada sopan namun terdengar mengejek. Ia menatap Kael dari atas ke bawah. "Aku tidak tahu kalau kau mempekerjakan asisten rumah tangga baru. Tapi seleramu soal seragam pelayan agak unik ya?" Suasana di ruangan itu langsung terasa sangat kaku. Sabrina melirik Kael yang rahangnya tampak mengeras. Tangan kanan Kael mengepal kuat sam
Sabrina berkacak pinggang di tengah dapur yang kini lebih mirip lokasi syuting film bencana bertema kuliner itu. Ia menoleh ke arah Ganda yang masih tertawa di ambang pintu."Bang Ganda, bawa Aliz mandi sekarang. Lihat, wajah dan bajunya sudah belepotan pasta cokelat begitu," perintah Sabrina tegas. Ganda segera mengangkat Aliz ke dalam gendongannya, masih sambil bersiul menggoda, sementara Aliz tertawa riang sambil melambaikan tangan kecilnya pada Kael. Namun, saat Kael hendak ikut melangkah keluar, Sabrina merentangkan tangannya di depan dada pria itu."Kau mau ke mana? Hukumanmu belum dimulai, Tuan O’Shea."Kael mengerutkan kening, menunjuk dirinya sendiri dengan spatula yang masih ia pegang. "Aku?""Iya, kau. Karena ini medan perangmu
Sabrina menghela napas panjang, mencoba mengabaikan denyut di pelipisnya yang mulai terasa nyut-nyutan. Ia tidak menyambut uluran tangan Kael yang penuh dengan plastik belanjaan, melainkan menunjuk ke arah laptopnya yang sudah menyala di atas meja kerja kecil di sudut ruangan."Maaf. Tapi jawaban dariku tetap tidak," ujar Sabrina dingin, berusaha mengembalikan benteng pertahanannya yang sempat goyah. "Pagi ini aku harus memeriksa tumpukan file proyek yang tertunda. Aku tidak punya waktu untuk bermain rumah-rumahan atau kursus dadakan. Lebih baik kau pulang sekarang." Kael terpaku. Binar di matanya redup seketika, dan bahunya yang tegap merosot seakan baru saja dijatuhkan oleh vonis pengadilan paling berat. Penolakan itu telak, jujur, dan sangat menyakitkan bagi harga dirinya.&
Sabrina sedang berlutut di atas karpet ruang tengah, sibuk memilah-milah tumpukan pakaian yang akan ia serahkan ke jasa laundry apartemen. Konsentrasinya terpecah antara memisahkan kemeja kerja Ganda dengan baju-baju kecil Aliz, hingga suara pintu depan yang terbuka kasar mengejutkannya. Ganda muncul dengan napas sedikit terengah, sementara Aliz digandengnya dengan wajah penuh binar penasaran."Hei, Sab! Kau harus lihat ke bawah, cepat!" adu Ganda, suaranya mengandung campuran antara heran dan ingin tertawa.Sabrina hanya melirik sekilas tanpa menghentikan jemarinya yang sibuk melipat. "Kenapa? Ada obral besar di minimarket memangnya?" jawabnya acuh tak acuh."Lebih parah dari itu. Ada pria aneh yang dikelilingi oleh kaum ibu di depan gerobak sayur. Dia seperti tontonan sirkus darurat," kata Ganda lagi, mencoba menarik lengan Sabrina agar berdiri."Ayolah, Sab. Lihat ke sana lewat jendela. Dia sepertinya kesurupan atau baru saja jatuh dari planet lain. Dia berd
"Apa katamu??" Suara Kael merendah, namun setiap suku katanya membawa getaran tajam yang sanggup mengiris keheningan ruang kerja itu. Ia meletakkan gelas wiskinya ke meja dengan dentuman pelan yang terasa seperti guntur di telinga Teguh. Atmosfer di kantor yang luas itu seketika mendingin, lebih dingin dari embun di perbukitan Bogor yang baru saja mereka tinggalkan. Teguh langsung tersentak. Bahunya merosot saat ia mundur satu langkah dengan wajah yang tertunduk dalam ke arah lantai."Maaf, Tuan. Maksud saya bukan begitu. Tu-Tuan hanya salah paham.""Salah paham sebelah mana?" Kael berdiri dari kursi kebesarannya, melangkah mendekat dengan aura intimidasi yang membuat udara di sekitar mereka terasa menipis. "Kau harusnya tahu bagaimana dia menerjang k
Sabrina melangkah masuk ke dalam apartemen dengan sisa kebingungan yang masih membekas akibat sikap dingin Kael di lobby tadi. Namun, begitu pintu tertutup, indra penciumannya segera menangkap sesuatu yang asing. Ada jejak aroma parfum yang terasa sangat familiar di ingatan Sabrina, seolah ia pernah menciumnya. Matanya kemudian beralih ke meja makan. Di sana, masih tersisa setengah mangkuk sup buntut yang masih mengeluarkan uap tipis, berdampingan dengan sepotong lap kain yang tergeletak begitu saja. Jelas saja dia curiga. Sabrina tidak langsung menodong Ganda dengan pertanyaan. Kakaknya itu terlalu lihai bersilat lidah jika sedang menyembunyikan sesuatu. Ia justru berlutut di hadapan Aliz yang seda
Kael melangkah keluar dari pintu jet pribadinya, disambut oleh udara lembap yang khas dan deru mesin pesawat di landasan pacu Bandara Seletar. Langkah kakinya yang tegas bergema di lantai aspal, dikelilingi oleh empat pria berpost
Jantung Sabrina berdegup liar, memukul-mukul rongga dadanya dengan ritme yang menyakitkan. Sosok pria di bawah lampu jalan itu, siluet yang menyalakan rokok dengan kemiringan kepala yang begitu spesifik, terlalu identik dengan han
"Saya rasa urusan fitting sudah selesai, Tuan," sahut Sabrina. Suaranya datar, sedingin lantai marmer yang ia pijak. "Saya harus melepas gaun ini sebelum jadwal istirahat saya dimulai.""Belum," potong Kael pendek
Gedoran di pintu ruang kerja itu tidak kunjung berhenti. Kael tidak segera bergerak untuk membukanya. Ia justru tetap mematung di depan Sabrina, menatap asistennya itu dengan isyarat tajam agar tetap diam di tempat. Jarak mereka yang hanya terpaut beberapa inci membuat Sabrina bisa mera







