LOGINMobil yang dikemudikan Sabrina membelah jalanan Jakarta dengan ritme yang tenang, sangat kontras dengan dentum jantung di balik dadanya yang masih belum mau mereda. Ketika lampu merah menyala, Sabrina menyandarkan kepala pada kaca jendela yang dingin, menatap deretan bangunan yang tampak buram. Pikirannya melayang kembali ke kabin jet pribadi beberapa menit yang lalu, ke arah sepasang mata abu-abu yang membelalak kaget dan rasa hangat pipi Kael yang sempat bersentuhan dengan bibirnya.“Bodoh, Sab. Kau ini benar-benar bodoh,” bisiknya pada diri sendiri, menutupi wajahnya yang memanas dengan kedua telapak tangan. Ya. Sabrina merutuki aksi dadakannya tadi. Bagaimana bisa ia melakukan hal seberani itu? Ia adalah gadis yang biasanya lebih suka berdebat dengan logika daripada menyerah pada perasaan. Namun tadi, di depan pria yang p
"Apa kau marah?" Sabrina bertanya sambil menyipitkan matanya, menatap lekat pada pria di hadapannya dengan perasaan waswas. Kael mengangkat sebelah alisnya, mencoba mempertahankan wibawa kepemimpinan O’Shea yang biasa tak tergoyahkan."Kenapa kau tanya begitu?" ia malah balik bertanya dengan nada suara yang sengaja dibuat berat. "Bukankah barusan kau marah-marah tidak jelas padaku?"Dengan bibir yang sedikit mengerucut, Sabrina menjawab, "Kita ’kan baru baikan. Jadi... aku merasa tidak enak jika harus menolak tawaranmu." Kael menghela napas panjang, sorot matanya melembut. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, memberikan senyum yang sangat jarang ia perlihatkan kepada mitra bisnisnya."Hei, tidak masalah kalau kau tidak bisa ikut den
Sabrina terdiam, dadanya bergemuruh hebat hingga terasa menyakitkan. Di detik itu, kesadarannya menghantam keras. Kemarahannya yang meledak-ledak bukan karena ego yang terusik, melainkan ketakutan nyata akan kehilangan pria tua bangka yang paling menyebalkan dalam hidupnya ini.“Sudahlah. Sana pergi!” Kael kembali duduk lalu memalingkan wajahnya, seolah benar-benar akan mengabaikan keberadaan gadis itu. Hingga kemudian...,"Aku peduli, bodoh! Aku tidak ingin kau pergi!" teriak Sabrina akhirnya, mengakui kejujurannya dengan cara yang masih penuh amarah dan sisa tangis. Kael cepat menoleh, kini tidak melepaskan tatapannya sedikit pun dari Sabrina. Ia tetap berge
Setengah jam kemudian, suasana di dalam kamar Ganda terasa jauh lebih tenang dibandingkan badai yang baru saja melanda meja makan. Pria itu baru saja merebahkan tubuhnya, berniat memejamkan mata setelah hari yang melelahkan. Namun, getaran dari gawainya di atas nakas mengalihkan perhatiannya. Sebuah pesan masuk dari Gladis.[Rencana kita sepertinya berhasil. Tadi Sabrina bertanya padaku.] Ganda mengulas senyum tipis yang penuh arti. Ia meletakkan kembali ponselnya, menarik selimut, dan akhirnya bisa bernapas lega. Ternyata, provokasi kecilnya di telepon tadi adalah bagian dari skenario yang jauh lebih besar. Keesokan paginya, Sabrina sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya di kantor. Ia telah mengirimkan seluruh laporan dan daftar tuga
Pesan ketus itu muncul di layar gawai Ganda tepat saat ia baru saja hendak menyuap nasi gorengnya.Kael:[Tanyakan saja padanya, adikmu yang masih sangat muda dan sok bijak itu. Kau 'kan kakaknya!] Ganda langsung meringis, nyaris tersedak. Jawaban itu lebih dari cukup untuk mengonfirmasi dugaannya. Atmosfer ruang makan yang mendadak beku dan semprotan Sabrina tadi bukanlah tanpa alasan. Dua orang keras kepala itu jelas sedang terlibat perang dingin yang cukup hebat. Ganda segera meletakkan sendoknya dan bergegas bangkit, mencoba mengejar Sabrina yang sudah melangkah cepat menuju pintu depan. Ia berniat meminta penjelasan yang lebih manusiawi daripada pesan teks Kael yang tajam. Namun, belum sempat dirinya bersuara, Sabrina sudah memberikan isyarat t
Deru mesin mobil mewah itu membelah jalanan malam dengan kecepatan yang tidak wajar. Di dalam kabin, suasana yang beberapa jam lalu terasa hangat oleh sisa aroma gula kapas kini berubah mencekam. Kael mencengkeram kemudi dengan rahang yang mengeras sempurna, tatapannya lurus ke depan, dingin dan tak tersentuh. Sabrina duduk mematung di sampingnya. Ia berkali-kali menoleh, mencoba mencari celah untuk memulai percakapan, namun setiap kali melihat profil wajah Kael yang kaku, kata-katanya tertahan di tenggorokan. Ada rasa bersalah yang mengganjal, namun di saat yang sama, harga dirinya juga terusik. Setiap kali lampu jalan menyinari kabin, mata Kael menangkap sepasang sandal karakter kucing konyol yang masih mereka kenakan. Alih-alih lucu, itu justru menjadi tamparan bagi eg
Malam di Surabaya kian larut, namun udara di dalam kabin sedan mewah itu terasa jauh lebih berat daripada kelembapan di luar sana. Kael mencengkeram kemudi dengan presisi yang kaku. Matanya menatap lurus ke aspal jalanan yang memantulkan pendar lampu merkuri, sementara pikirannya entah
Sabrina langsung tersentak kaget. Tubuhnya berjengit kecil saat bunyi dentang besi gagang pel itu menghantam lantai marmer dengan suara yang memekakkan telinga di tengah lobi yang sunyi. Dengan napas yang menderu pendek, ia mencoba mengabaikan tatapan tajam Kael yang menghuj
Suasana di dalam kabin sedan mewah itu berubah drastis, seolah oksigen di dalamnya mendadak tersedot habis. Cengkeraman tangan Kael pada pergelangan tangan Sabrina tidak lagi terasa seperti bentuk kecemburuan, melainkan sebuah peringatan mati yang kaku. Sabrina bisa merasakan suhu tubuh
"Maksudku... itu... bau mulutmu," kilah Kael cepat, suaranya sedikit serak. Ia membuang muka, menatap deretan buku di belakang Sabrina seolah itu benda paling menarik di dunia. "Bau cabainya tercium sampai sini. Penciumanku sangat tajam."&nb







