LOGINKael masih mematung, tubuhnya sekaku batu pahatan. Tangannya masih menggantung kaku di udara, terjebak dalam keterkejutan yang luar biasa barusan. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Sabrina yang merapat, sebuah kontak fisik paling sukarela yang pernah diberikan gadis itu selama mereka bersama.
Namun, kehangatan tersebut tidak membawa ketenangan. Detak ja
Bayangan tentang masa kecil bagi Sabrina bukanlah tawa dan canda di meja makan, melainkan tangisan sang ibu yang sering ditinggal oleh ayahnya. Di sudut ingatannya yang paling gelap, ia masih bisa mendengar isak tangis ibunya yang tertahan di balik bantal, sementara ia dan Ganda bersembunyi di bawah kolong tempat tidur, saling menggenggam tangan seolah dunia akan runtuh jika mereka melepaskannya. Ya. Sabrina tumbuh besar menyaksikan bagaimana pernikahan hanyalah sebuah transaksi atau penjara. Ia bahkan melihat sendiri bagaimana Ganda harus mengorbankan perasaannya dan terpaksa menikah hanya demi keuntungan bisnis keluarga yang nyaris karam. Baginya, janji suci tak lebih dari sekadar kontrak yang siap dikhianati, dan cinta hanyalah kata manis untuk menutupi dominasi satu pihak atas pihak lainnya.&n
"Jangan katakan padaku kalau kau yang mengambil ini.” Sabrina berucap dengan nada yang bergetar antara tidak percaya dan geli. Ia mengangkat roncean melati tadi dengan ujung jarinya, membiarkan bunga-bunga putih yang mulai layu namun tetap harum itu menggantung di udara kabin mobil yang dingin. Aroma melati yang semula terasa menenangkan, kini mendadak membuat suasana di dalam mobil mewah itu terasa sesak oleh kecurigaan. Kael tetap bergeming. Pandangannya lurus ke depan, mencengkeram kemudi dengan kekuatan yang sedikit berlebihan. Indikator kecepatan di dasbor menunjukkan angka yang stabil, namun ketenangan wajah Kael sama sekali tidak mencerminkan apa yang sedang terjadi di balik telinganya yang mulai memerah panas."Kael, aku serius. Kau sudah membuat satu desa panik! Perias itu hampir menangis karena mengira ada roh halus yang menyembunyikannya," tuntut Sabrina lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih tinggi."Mungkin itu melati lain. Victo
Suasana di hajatan itu berubah menjadi keributan kecil yang mulai merembet ke telinga para tamu. Pak Dadang tampak pucat pasi, sementara sang perias terus menggumamkan do’a-do’a tolak bala sambil mencari ke kolong meja."Bagaimana ini? Acara harus segera dimulai!" bisik salah satu bibi Teguh dengan nada panik.qNamun, di tengah kepanikan itu, deru mesin motor terdengar mendekat dengan cepat ke arah tenda. Tak lama kemudian, Victor dan Teguh muncul dari kerumunan dengan napas tersengal. Di tangan Victor, sebuah kotak beludru terbuka memperlihatkan roncean melati yang masih sangat segar, bahkan butiran embunnya masih terlihat berkilau di bawah lampu tenda."Ini melatinya, Pak!" seru Teguh sambil menyerahkan bunga itu kepada perias. Semua orang di sana terperangah. Mereka kagum dengan gerak cepat Kael yang ternyata
Kedatangan motor besar yang ditunggangi wanita berkebaya cantik dengan penumpang pria berbatik mahal menjadi tontonan utama pagi itu. Suara deru mesin motor yang kontras dengan alunan gamelan menyita perhatian seluruh tamu. Di depan pintu masuk, Teguh terpaku dengan mulut sedikit terbuka. Ia hampir tidak percaya melihat bosnya yang terkenal kaku dan perfeksionis, Kael, turun dari boncengan motor yang dikendarai oleh Sabrina. Ya. Kael turun dengan gerakan yang berusaha tetap elegan, meskipun ia harus sedikit meringis karena kakinya yang kaku. Namun, sebelum melangkah lebih jauh, Kael meraih cermin kecil dari saku motor yang dibawa Sabrina. Dengan penuh kesetiaan, ia memegang kaca itu tepat di depan wajah Sabrina, membiarkan wanita itu memeriksa riasan
"Kenapa? Kau takut batikmu terkena debu, atau kau sebenarnya tidak bisa naik motor?" Sabrina bertanya dengan mata berkedip penuh selidik, menatap Kael yang masih mematung di balik kemudi dengan wajah merah padam."Iya. Kenapa memangnya?" balas Kael ketus. Ia merasa harga dirinya jatuh berkeping-keping. Bayangan seorang CEO yang selalu duduk manis di kursi belakang mobil mewah, kini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ia tidak memiliki kendali atas situasi ini."Tuan, saya sudah di lokasi. Apa Anda sudah dekat?" suara Victor di pengeras suara memecah keheningan yang canggung itu."Diam kau, Victor! Tunggu saja di sana!" bentak Kael sebelum mematikan sambungan telepon dengan kasar. Pada akhirnya, tidak ada pilihan lain. Kael memacu sedannya menuju titik koordinat yang diberikan Victor. Mereka sampai di sebuah persim
Mobil mewah Kael kemudian meluncur membelah jalanan Jakarta yang tampak lengang karena memang ini adalah akhir pekan. Di dalam kabin yang kedap suara itu, aroma parfum woody milik Kael dan wangi peach dari tubuh Sabrina beradu, menciptakan atmosfer yang intim namun juga penuh ketegangan. Sabrina terus-menerus merapikan lipatan kain lilitnya, memastikan penampilannya tetap sempurna."Kau terlihat gelisah. Apa busanamu terlalu ketat?" tanya Kael sambil melirik sekilas, satu tangannya masih setia mengendalikan kemudi sementara tangan lainnya bersandar santai di transmisi."Bukan begitu," sahut Sabrina pelan. "Aku hanya berpikir, apa tidak berlebihan kalau aku ikut? Ini acara keluarga Mas Teguh. Pak Dadang pasti akan terkejut melihatku datang bersamamu, bukan sebagai karyawan, tapi...""Tapi sebagai pasanganku," potong Kael cepat dengan nada rendah yang tegas. "Pak Dadang sudah meng
Hujan badai yang menghantam Jakarta sore itu seolah menjadi tirai sempurna untuk sebuah pertemuan yang tidak semestinya terjadi. Gladis memilih sebuah kafe tua di pinggiran kota yang sudah hampir tutup, tempat yang jauh dari jangk
"Saya hanya membela diri. Permisi," Sabrina melangkah melewati Gladis dengan bahu tegak, membiarkan aroma detergen dari seragamnya beradu dengan parfum mahal Gladis yang terasa menyesakkan. Sabrina terus berjalan menuju rua
Ruang kerja CEO O’Shea Group itu terasa begitu mencekam. Kael tidak langsung bicara. Ia duduk tenang di kursi kebesarannya, menyesap kopi hitam yang uapnya masih mengepul tipis, sembari matanya yang tajam menelusuri sosok di
"Ternyata kau punya rahasia yang cukup... kumal ya?" Suara Gladis yang melengking di ambang pintu membuat Sabrina mematung di depan jendela besar ruang kerja Kael. Gladis melangkah masuk dengan anggun, matanya berkilat sena







