Malam telah melarut di Mansion Vanderwick. Lampu-lampu kristal di koridor utama mulai diredupkan, menyisakan pencahayaan hangat yang menenangkan. Namun, di kamar bayi, suasananya justru sedang sedikit tegang. Alistair, yakni sang CEO yang biasanya bisa menaklukkan ruang rapat dalam sekejap, kini tampak kelelahan dengan kancing kemeja atas yang sudah terbuka. "Arlo... jagoan Daddy, kenapa menangis lagi?" gumam Alistair sambil mengayunkan putranya dalam dekapan. Anehnya, setiap kali Alistair mencoba membaringkan Arlo ke dalam boks bayi, Arlo langsung terbangun dan merengek kencang. Begitu tubuhnya kembali bersentuhan dengan dada Alistair, tangisan itu langsung berhenti berganti dengan isapan jempol yang tenang. "Dia benar-benar tidak mau lepas darimu, Bub," bisik Lala yang baru saja masuk sambil membawa botol susu hangat. "Posesifnya sudah mulai bekerja. Dia mau Daddy-nya hanya untuk dia malam ini." "Aku senang dia sangat membutuhkanku, tapi punggungku rasanya mau patah, Sayang," kel
Read more