Celah tebing itu sempit, lembap, dan dipenuhi aroma pengap lumut tua serta tanah basah yang belum pernah tersentuh matahari selama berabad-abad. Liang Xiao menyandarkan punggungnya yang hancur pada dinding batu yang dingin, merasakan sensasi beku yang kontras dengan api yang membakar di dalam tubuhnya. Napasnya terdengar berat dan tersendat, seperti embusan angin yang dipaksa melewati tenggorokan yang tersumbat oleh gumpalan darah kering. Di telapak tangannya yang gemetar, Permata Hitam tidak lagi sekadar berdenyut; benda itu kini berpijar dengan cahaya ungu gelap yang pekat, memancarkan aura radiasi yang tidak wajar ke dinding-dinding gua."Jika aku tidak bisa menjinakkan energi liar ini dalam hitungan menit... seluruh sel tubuhku akan meledak menjadi debu," geram Liang Xiao dalam hati, mencoba mempertahankan sisa kesadarannya yang mulai memudar.Ia memaksakan
Ler mais