Tepat jam tujuh malam Ardan sampai di rumah. Tanpa melepas jasnya, ia langsung berlari menuju kamar utama. Napasnya memburu, jantungnya tak karuan. Di sana, Kemuning terbaring lemah. Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus dalam beberapa hari ini. Wajah yang biasanya menenangkan itu kini pucat dan sendu.“Sayang," suara Ardan pecah.Ia segera mendekat, duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur menyentuh dahi Kemuning yang masih hangat. Ada penyesalan yang menghantam keras saat menyadari ia pergi tanpa kabar yang jelas.“Maaf, maafkan mas. Mas yang salah,” lirihnya. “Mas nggak seharusnya diam, menunggu kamu hubungi mas lebih dulu," ujarnya penuh sesal.Kemuning perlahan membuka mata. Melihat Ardan di hadapannya, ia justru tersenyum lembut. Senyum yang terlalu indah untuk kondisi selemah itu.“Aku tidak apa-apa, Mas,” ucapnya pelan.Namun Ardan bisa melihatnya. Senyum itu tidak sampai ke mata. Ada sesak yang disembunyikan, ada luka yang dipaksa rapi.“Kenapa kamu nggak hubungi Mas?” tanyanya
Last Updated : 2026-02-15 Read more