"Kenapa mas terkejut begitu?" Kemuning mengerutkan keningnya, menatap wajah Ardan yang seketika berubah. Perubahan yang sangat mengejutkan untuknya.Ardan masih terpaku beberapa detik, seolah kata-kata itu belum benar-benar ia cerna.“K-kamu, serius, Yang?” suaranya nyaris berbisik.Kemuning tersenyum gugup. "Aku tidak tahu pasti mas. Tapi, sepertinya begitu karena aku sudah terlambat datang bulan."Hening sesaat. Ardan menatap wajah istrinya lekat, mencoba memastikan ini bukan salah dengar. “Jadi, kita?”Kemuning mengangguk pelan. “InsyaAllah, Mas. Kita akan jadi orang tua. Sebelum itu kita harus periksa lebih dulu mas, untuk memastikan aku beneran hamil atau tidak."Napas Ardan tercekat. Semua kata yang biasanya mudah ia ucapkan mendadak hilang. Tanpa sadar ia merengkuh tubuh Kemuning erat, seolah takut kabar itu menguap begitu saja.Ia mencium pucuk kepala istrinya yang tertutup jilbab, lama, penuh syukur.“Terima kasih,” bisiknya serak. “Terima kasih sudah menjaga calon anak kita
Last Updated : 2026-02-22 Read more