Lila berdiri tegak di hadapan Ardan, tatapannya dingin tanpa sisa keraguan. Tidak ada lagi nada emosi yang meledak-ledak, justru ketenangan itu yang terasa lebih menekan.“Jangan pernah menyebut nama Kemuning seolah kamu masih punya hak atas hidupnya.”Ardan terdiam, namun Lila tidak memberinya ruang untuk bernapas.“Yang kamu tahu itu belum seberapa,” lanjutnya pelan. “Kamu tidak ada saat dia hamil, berjalan sendirian, jatuh di tengah hujan, hampir kehilangan anaknya. Kamu juga tidak ada saat dia menggendong bayinya sendiri, berjualan kue dari pintu ke pintu, secara diam-diam, hanya untuk bertahan hidup.”Setiap kalimatnya seperti menghantam tanpa ampun. Ardan mengepalkan tangan, rahangnya mengeras, namun tidak satu pun bantahan keluar dari bibirnya.“Dan kamu,” suara Lila sedikit merendah, “pria yang seharusnya melindungi, justru jadi alasan kenapa dia hidup seperti itu.”Hening sejenak, sebelum Lila kembali menatap tajam. “Jadi dengar baik-baik, Tuan Ardan. Lepaskan dia. Biarkan Ke
Last Updated : 2026-03-23 Read more