Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Kemuning memutuskan pulang ke rumah. Ya, ia harus mengambil keputusan. Untuk dirinya, dan anak dalam kandungan yang bahkan belum genap empat bulan.Langit siang itu terlihat redup ketika ia duduk di bangku taman kecil dekat rumah. Tangannya gemetar menyentuh perutnya.“Maafkan bunda, nak,” bisiknya parau.Ucapan Ardan terus terngiang, tujuannya menikahinya karena balas dendam. Dan apa yang ia katakan tadi? Ardan tidak menginginkan anak. Anak yang ada dalam kandungan Kemuning bukankah kepinginnya. Kejanggalan Ardan yang menikahinya, bulan madu yang indah, kata cinta, candaan, dan pujian itu hanyalah bagian dari sandiwara. Kini semuanya terasa masuk akal.Obat-obatan yang dulu Ardan berikan dengan alasan vitamin. Pil kecil yang selalu ia letakkan di samping minumnya setiap malam adakah pencegah kehamilan. Kemuning menutup matanya dengan kedua tangan.Air matanya jatuh tanpa bisa ia bendung. Ironis sekali kehamilan ini terjadi bukan karena ia melawan a
Last Updated : 2026-03-05 Read more