Pagi itu, rumah terasa jauh lebih damai dari biasanya. Arka berlari kecil di halaman, tertawa memanggil Ardan yang sedang menyiapkan sarapan bersama Kemuning.“Yah, cepat! Arka lapar!” serunya riang.Ardan tertawa kecil. “Iya, Pahlawan kecil.”Kemuning hanya menggeleng pelan sambil tersenyum. “Dua-duanya sama saja.”Ardan mendekat, meraih tangan Kemuning. “Capek?”“Tidak,” jawabnya pelan.“Maaf," ucapnya lirih. Kemuning menoleh, tatapannya bertemu dengan manik tajam Ardan."Untuk?""Semua, maaf karena membuatmu jatuh bangun dalam merawat anak kita. Bahkan saat dalam kandungan kamu begitu kesulitan, dan aku dengan bodohnya tidak menyadari." Tangannya terulur menangkup wajah cantik yang kini tak bercadar itu. "Itu sudah berlalu, lagi pula aku juga salah waktu itu. Aku mengambil kesimpulan tanpa mendengar kelanjutannya, mas maafkan aku. Seandainya aku bisa sabar mendengar semuanya pasti kamu dan anak kita tidak akan berjauhan, dan kamu bisa merasakan pergerakan anak kita dalam perut." S
Read more