Tharie sudah berada di kamarnya. Lampu meja menyala temaram, tirainya setengah tertutup, membiarkan cahaya lampu taman di luar masuk samar-samar. Ia duduk di tepi ranjang, punggung bersandar pada sandaran empuk, kedua kaki terlipat asal. Ponselnya tergeletak di samping, layar mati, tapi pikirannya justru ramai —terlalu ramai untuk sekadar malam yang seharusnya tenang.Ia melamun.Entah sejak kapan, pikirannya dipenuhi oleh satu nama yang sama, satu wajah yang sama, satu suara yang sama.Gilang.Tharie menghela napas pelan. Ia memejamkan mata, berharap pikirannya beralih ke hal lain. Tapi alih-alih pergi, ingatan itu justru datang berbondong-bondong, begitu jelas, seolah kejadian itu baru saja terjadi beberapa menit lalu.Ia kembali mengingat makan malam mereka.Meja makan yang tadinya terasa asing, mendadak hangat. Spageti yang rasanya jauh lebih enak dari yang ia bayangkan. Steak yang empuk, dipotong rapi, dimasak dengan tingkat kematangan yang pas. Cara Gilang duduk di seberangnya —
Last Updated : 2026-01-30 Read more