Nando, yang duduk di sebelah Pak Surya, menyipitkan mata ke arah Aruna, lalu beralih ke Keenan. Ia melihat rona merah yang tidak wajar di leher Aruna dan bibir sahabatnya yang tampak sedikit mengkilap. "Anda baik-baik saja, Aruna?" tanya Nando dengan nada yang sengaja dibuat perhatian. "I-iya, Pak Nando. Hanya tenggorokan tiba-tiba terasa kering, mungkin panas dalam.." jawab Aruna tanpa berani menatap siapa pun. "Kalau begitu, rapat kita cukup sampai di sini," Keenan berdiri, menutup mapnya dengan suara keras. "Nando, antar mereka ke lobi. Aku harus mendiskusikan laporan akhir dengan Aruna, segera." Setelah para direksi keluar dan Nando memberikan pandangan 'kita-bicara-nanti' kepada Keenan, pintu jati itu akhirnya tertutup rapat. Bunyi klik dari kunci elektrik otomatis bergema di ruangan yang tiba-tiba menjadi sunyi itu. Aruna langsung berdiri, menyambar tasnya. "Rapat sudah selesai. Saya mau makan siang ke luar, Pak Keenan.." "Duduk kembali, Aruna Zevania Louisa," suara
Dernière mise à jour : 2026-01-16 Read More