Pintu ruang rapat terbuka perlahan, Keenan melangkah masuk dengan penuh wibawa, tangannya menggandeng jemari Aruna dengan sangat erat. Ia tidak berusaha menutupi kerah kemejanya yang sedikit terbuka, sengaja memamerkan noda merah keunguan di bawah rahangnya. Di sampingnya, Aruna berjalan dengan dagu terangkat, meski wajahnya merona karena tiga bercak hickey di leher kirinya terlihat jelas oleh siapapun yang melihatnya.Keheningan seketika terasa di ruangan itu. Para manajer divisi, investor, dan staf senior yang tadinya sibuk berdiskusi, mendadak terdiam. Mata mereka kompak tertuju pada leher sang CEO dan asisten pribadinya."Selamat siang semuanya. Mari kita mulai," sapa Keenan dengan nada tetap dingin, suaranya yang berat seketika memecah kecanggungan.Alexander, yang duduk di ujung meja pimpinan, menyipitkan mata. Ia menatap leher putranya, lalu beralih ke leher Aruna. Pria paruh baya itu berdehem keras, membuat beberapa orang yang sedang berbisik langsung menunduk ketakutan."
Dernière mise à jour : 2026-02-21 Read More