LOGINPagi ini alarm sudah berbunyi nyaring sejak pukul enam pagi, namun karena masih ada sisa-sisa kelelahan dari ‘penelitian malam Jumat’ membuat keduanya enggan beranjak dari balik selimut.
Namun tak lama kemudian Aruna terbangun pertama kali karena tuntutan profesionalisme. Saat ia hendak beranjak dari ranjang, tangan Keenan memeluknya erat. “Mau kemana?!” suara Keenan terdengar berat, Aruna menoleh melihat masih memejamkan mata. "Keenan, lepas...Keenan memperhatikan tangan Aruna yang gemetar saat menerima panggilan video call dari nomor tidak dikenal. “Angkat teleponnya Aruna, aku disini,” Keenan memegang tangan Aruna dengan lembut. Begitu layar terbuka, tampak wajah Chelsea yang sembab karena menangis, namun di belakangnya terlihat kerumunan wartawan dengan kamera dan mikrofon yang mengarah padanya. Chelsea tampak sedang memegang ponsel dengan tangan gemetar, sementara beberapa staf keamanan perusahaan menjaganya agar media tidak masuk lebih jauh. [Aruna... Keenan…] suara Chelsea terdengar serak dan manja, namun kali ini ada ketakutan yang nyata di sana. Aruna hanya diam, ia menyandarkan punggungnya di jok mobil, membiarkan Keenan mendekat ke arahnya agar wajah pria itu juga masuk ke dalam bingkai kamera. Keenan merangkul bahu Aruna posesif, wajahnya sedingin es, menatap tajam ke arah kamera seolah ingin menembus layar itu dan mencekik Chelsea. [Aku... Aku ingin mengklarifikasi semuanya di depan teman-teman media,] u
Aruna merasa wajahnya kini mungkin tidak lagi merah merona, tapi sudah putih pucat karena sangat malu. Sementara Keenan hanya bisa terbatuk-batuk kecil, kehilangan kata-kata untuk pertama kalinya. "Papa pergi dulu. Nando, urus sisanya," Alexander berbalik pergi dengan langkah gagah, meninggalkan Keenan dan Aruna dalam keheningan yang terasa sedikit memalukan. Nando yang berdiri di dekat pintu hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan, tapi bahunya terguncang hebat karena menahan tawa yang akhirnya pecah begitu Alexander menghilang di balik pintu lift. "Hahahaha! Astaga Keenan! Mungkin apa kata Papa kamu benar.. Suaranya mungkin terdengar sampai lorong?! Kamu benar-benar luar biasa!" tawa Nando meledak. "Nando! Keluar!" bentak Keenan dengan wajah merah padam. Sementara itu, Aruna menunduk sambil menutupi wajahnya dengan syal, tidak berani menatap siapa pun bahkan setelah Alexander pergi. "Keenan, aku mau pulang sekarang juga. Jangan bicara padaku, jangan sentuh aku! Kamu b
Aruna menunduk sedalam-dalamnya, wajahnya sudah semerah tomat. Keenan berdehem, ia melirik Aruna sekilas lalu kembali menatap Papanya dengan berani. "Tadi... Kami baru saja mencoba fungsi jacuzzi-nya, Pa. Aku ingin memastikan air hangat dan tekanan airnya berfungsi dengan baik sebelum kita melakukan renovasi interior." "Mencoba jacuzzi?" ulang Alexander. Ia menatap ke arah plastik ranjang yang berantakan lagi. "Lalu kenapa ranjang itu juga tampak... Sangat berantakan? Apa kalian mencoba tekanan air di atas kasur juga?" Pertanyaan frontal Alexander membuat Aruna ingin menghilang dari sana saat itu juga. Ia mencengkeram lengan kemeja Keenan dari belakang, memberikan kode agar pria itu segera mengakhiri interogasi ini. Keenan tetap tenang, meski ia tahu Papanya tidak bisa dibohongi. "Plastiknya memang licin, Pa. Tadi Aruna sempat terpeleset saat keluar dari kamar mandi dan aku menangkapnya di atas ranjang. Begitulah." Alexander terdiam sejenak, matanya yang tua namun jeli itu b
Keenan menunjuk ke arah tumpukan pakaian mereka yang berserakan di lantai kamar utama tadi. "Pakaian kita... Aku rasa semuanya sudah berantakan. Dan kita tidak bawa alat mandi selain itu rambutmu... Akan sangat basah setelah mandi." Aruna baru menyadari hal itu. Mereka tidak membawa baju ganti, dan perlengkapan mandi. Selain itu pakaian kerja mereka tadi sudah kusut akibat aksi liar Keenan di atas ranjang berplastik itu. Belum lagi rambut mereka yang basah kuyup karena aktivitas di jacuzzi. "Keenan! Bagaimana ini? Kita tidak mungkin keluar dari sini dengan keadaan seperti ini! Semua gara-gara kamu!" Aruna mulai panik. Keenan mencoba menenangkan Aruna. "Tenang, aku akan menelpon Nando. Aku akan menyuruhnya membawakan pakaian ganti dari apartemen. Untuk sementara, kita pakai lagi saja baju kita yang lama meski agak berantakan," katanya sambil tersenyum. Keenan bangkit dari kolam, air menetes dari tubuhnya yang kokoh. Ia meraih handuk yang tersedia di sana dan memberikannya pad
Aruna mendelik mendengar kata-kata Keenan, apalagi melihat raut wajahnya pria itu yang masih diliputi gairah. Aruna mencubit pinggangnya. “Cukup Keenan jangan keterlaluan! Penthouse ini bahkan belum serah terima, kamu sudah mencicipi ranjangnya!” Keenan tersenyum geli melihat rona wajah Aruna, ia menghapus keringat yang membasahi dahi wanita itu. Keenan memperhatikan Aruna masih mengatur nafasnya yang belum juga teratur sempurna. Namun suara gesekan plastik di bawah tubuh mereka setiap kali bergerak seolah mengingatkan betapa liar dirinya diatas ranjang baru itu. Tapi tetap saja Keenan tidak mau beralih, ia masih betah menindih sebagian tubuh Aruna, mengecup bahu wanita itu dengan sisa-sisa nafas yang masih memburu. Matanya tampak puas, memperhatikan hasil karya barunya di setiap inci tubuh Aruna. "Keenan ayo pulang, ranjang ini... Berisik sekali, Keenan," gumam Aruna malu, tangannya mencoba menutupi dadanya yang naik turun. Keenan terkekeh, suara bassnya terdengar sangat seks
Mata Aruna terbelalak mendengar kata-kata Keenan. Sebuah kata ‘permainan peran’ kembali mengingatkannya pada permainan perannya di malam jumat sebelumnya. Ia membayangkan bagaimana liarnya Keenan yang langsung menyerangnya saat itu. “Tidak Keenan! Tidak ada permainan peran lagi,” Aruna membalas bisikan Keenan. “Kalau begitu, aku yang akan bermain peran..” Keenan menoleh ke arah papanya. “Pa, kalau sudah tidak ada yang dibahas, alu dan arun pulang dulu..” Suasana di ruang tamu mansion itu terasa sedikit tegang setelah ultimatum keras Alexander. Sofia masih tampak mematung dengan wajah pucat, sementara Chelsea menatap lantai dengan tangan gemetar. Alexander melirik jam tangan lalu kembali menatap Keenan. ”Tidak bisa Keenan! Sekarang juga pergilah ke gedung Penthouse itu. Asistenku sudah di sana bersama pihak manajemen. Aku sudah meminta mereka menyiapkan dua pilihan unit penthouse terbaik di lantai teratas untuk kamu pilih," kata Alexander dengan nada yang tidak menerima bantahan.







