"Meja makan, sofa, ranjang, atau lantai pun tidak masalah, asalkan itu bersamamu," gumam Keenan sebelum membungkam bibir Aruna dengan ciuman yang sangat dalam dan penuh tuntutan. Ciumannya tidak lagi lembut seperti saat ia merawat Aruna. Ciuman kali ini penuh hasrat yang menunjukkan betapa laparnya Keenan akan sosok Aruna. Lidah mereka saling bertautan, saling membelit dalam gerakan yang semakin liar. Tangan Keenan bergerak cepat, meremas pinggul Aruna, menarik tubuh wanita itu agar semakin menempel erat pada tubuhnya. “Uuhhmmm.. Keenan!” Aruna merintih di sela ciuman mereka, tangannya menjambak rambut Keenan, menarik pria itu agar semakin dalam melumat bibirnya. Rasa hangat mulai menjalar ke seluruh tubuh Aruna, membuat detak jantungnya berdebar lebih cepat, seirama dengan detak jantung Keenan yang begitu kuat di dadanya. "Aku akan menagih semuanya siang ini, Aruna. Sampai kamu tidak sanggup menyebut namaku lagi," bisik Keenan serak d
Dernière mise à jour : 2026-02-17 Read More