LOGINSuasana di dalam laboratorium yang tadinya penuh gairah karena ciuman panas antara Aruna dan 'Pak Budi' seketika mendingin. Suara langkah kaki Alexander yang tegas di koridor luar terdengar seperti ancaman yang mematikan.
"Keenan, cepat! Kumisnya! Pasang dengan benar!" Seru Aruna dengan suara pelan yang begitu panik. Ia mendorong dada bidang suaminya dengan kuat. Keenan mendengus kesal, namun ia bergerak cepat. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena gKeenan langsung menghampiri Nando di tengah koridor saat mengantar Aruna keluar kamar menuju kamar sebelah, auranya yang dominan kembali memuncak. Ia mencengkeram bahu Nando dengan kuat. "Apa yang kamu temukan di kantor?" Nando mengatur napasnya. "Aku membawa rekaman CCTV rahasia dari ruang kerja Om Alexander, dan hasil penyelidikan tim IT bayangan Anda, Keenan." Keenan menarik Nando masuk ke dalam ruang ICU. Di depan ranjang Alexander yang kini sudah terjaga sepenuhnya, Keenan meminta Nando mengeluarkan bukti itu. "Buka sekarang. Papa juga ingin melihat siapa bajingan itu." Nando melirik Alexander, yang memberikan anggukan lemah tanda setuju. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena kelelahan, Nando membuka laptopnya dan memutar sebuah rekaman video hitam putih dari sudut yang sangat tersembunyi, kamera yang bahkan tidak diketahui oleh tim keamanan gedung. Dalam rekaman itu, terlihat suasana ruang kerja Alexander yan
Keenan membeku. "Nando? Kenapa dengan dia?" Aruna baru saja akan mengeluarkan foto itu dari sakunya, namun suara dokter kembali menginterupsi, meminta mereka memberikan ruang karena Alexander harus menjalani tes motorik lanjutan. “Maaf Tuan Keenan dan Nyonya Aruna, saya akan memeriksa kondisi Pak Alexander secara berkala..” “Oh ya, silahkan dokter..” Keenan memberikan ruang pada dokter dan perawat untuk memeriksa Alexander, ia kemudian menarik Aruna ke sudut ruangan yang gelap, menjauh dari jangkauan pandangan perawat. Ia mengunci tubuh Aruna di antara dinding dan tubuh kekarnya, memberikan ciuman yang mendalam dan penuh tekanan di bibir istrinya, seolah ingin meyakinkan istrinya apapun yang dikatakan, semua akan baik-baik saja. . "Katakan padaku, Aruna," gumam Keenan di sela ciumannya yang panas. "Apa yang terjadi di mansion tadi? Ada apa dengan Nando" Aruna terengah-engah, tangannya menc
Aruna masih mematung di depan meja riasnya. Kenzo, yang baru saja tenang setelah menyusu, bersandar lemas di bahunya, sementara tangan kiri Aruna masih menggenggam erat amplop coklat yang baru saja ia buka. Ia menoleh ke arah Zakia, berpikir mungkin saja sahabatnya itu tahu sesuatu. "Zaskia!" panggil Aruna dengan suara yang ditekan, mencoba tidak mengejutkan bayinya. Zaskia, yang baru saja meletakkan botol susu kosong milik Kenzie di atas nakas, menoleh dengan wajah lelah yang seketika berubah waspada melihat ekspresi sahabatnya. "Ada apa, Aruna? Kenapa wajahmu seperti itu?" Aruna menyodorkan amplop dan isinya ke arah Zaskia. "Dari mana amplop ini berasal? Siapa yang meletakkannya di meja riasku?" Zaskia mengambil foto itu dengan dahi berkerut. Namun, sedetik kemudian, matanya melebar dan tangannya gemetar. "Ini... ini Nando? Dan pria ini... aku tidak mengenalnya. Aruna, aku bersumpah, aku tidak tahu ada amplop ini di
[Halo, Zaskia? Ada apa?] Di seberang telepon, suara Zaskia terdengar sangat panik dan lelah. Di belakangnya, terdengar suara tangisan bayi yang sangat kencang dan bersahutan. [A-Aruna! Syukurlah kamu angkat! Aduh, Aruna... Kenzo dan Kenzie rewel sekali!] teriak Zaskia di telepon. [Sepertinya mereka merasakannya kalau kamu tidak ada di mansion. Sejak tadi mereka tidak mau minum susu, tidak mau digendong suster, mereka terus berteriak mencari 'Mamama'!] Aruna seketika merasa dadanya sesak mendengar tangisan kedua buah hatinya. [Astaga... Kenzo, Kenzie…] [Aku sudah mencoba segala cara, Aruna! Bahkan mainan kesukaan mereka tidak mempan. Mereka mulai agak demam karena terus menangis. Kamu dimana? Bisa pulang sebentar?] tanya Zaskia penuh harap. Aruna menoleh ke arah Keenan yang juga bisa mendengar suara tangisan itu melalui speaker telepon. Wajah Keenan yang tadi keras karena am
Keenan berdiri mematung di koridor rumah sakit, mencerna setiap kata yang diucapkan dokter mengenai adanya residu zat kimia dalam tubuh Papanya. Rahangnya mengeras, otot-otot di lengannya mulai menegang. Ia menoleh ke arah Nando dengan tatapan tajam. “Nando,” suara Keenan rendah namun penuh penekanan. “Katakan padaku sekarang... Apa kamu sudah mengantongi nama pelaku? Siapa bajingan yang berani melakukan ini?” Nando tampak sedikit gemetar, ia segera menetralkan ekspresinya. “Belum, Keenan. Aku belum bisa memastikan siapa pelakunya. Tapi satu hal yang pasti, orang ini adalah orang dalam yang tahu rutinitas Om Alexander dengan sangat detail.” “Brengsek!” Keenan mendesis, tangannya mengepal kuat. “Cari tahu sekarang juga! Aku tidak peduli berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk menangkap pelakunya, lacak siapapun yang mendekati meja Papa hari ini!” Nando mengangguk cepat. “Aku akan segera ke kantor pusat sekarang
Keenan mendekap Aruna erat, tangannya yang melingkar di pinggang istrinya itu kini bergetar karena amarah yang tertahan. Tak lama kemudian ia akhirnya melepaskan pelukannya perlahan, kini pandangannya kembali ke arah Nando. "Seseorang mencoba mengaksesnya file itu, Nando..." suara Keenan rendah, namun setiap kata yang keluar terdengar seperti geraman predator. "Dan kamu masih bersikeras merahasiakan isinya dariku? Di saat ada bajingan yang mencoba mencurinya di bawah hidung kita?!" Nando menatap layar ponselnya dengan wajah yang semakin pucat. Cahaya dari layar itu memantulkan kecemasan yang mendalam di matanya. "Keenan, tolong mengertilah. Enkripsi draf ini sangat berlapis. Akses ilegal itu baru mencapai lapisan pertama, belum menyentuh inti drafnya. Om Alexander sudah memprediksi hal ini akan terjadi." "Memprediksi?" Aruna menyela, matanya yang cerdas menyipit waspada. Ia menyentuh lengan Keenan, mencoba menjadi p
Keenan menarik lengan Aruna dengan langkah kaki lebar, menyusuri koridor samping mansion yang remang-remang. Aruna terseok-seok mengikuti, tangannya sibuk memegang kancing kemejanya yang belum sempat dikaitkan sempurna. "Keenan, berhenti! Kita mau ke mana? Ini bukan jalan keluar
Keenan terdiam sejenak. Pelukannya mengerat, bukan lagi pelukan penuh nafsu, tapi pelukan yang penuh kerinduan terpendam. Ia memutar tubuh Aruna kembali, menatap matanya dalam-dalam. ”Karena luka beberapa tahun lalu itu terlalu dalam, Aruna,” suara Keenan melembut namun tetap berat. “Dan satu-s
Keenan berdiri di koridor rumah sakit dengan kemeja hitam yang masih lembap, tidak lama Nando datang membawakannya pakaian ganti untuknya. Di tangannya, Keenan memegang ponsel yang berisi bukti-bukti baru tentang upaya sabotase perusahaan dan pelecehan pada Aruna. "Nando, pastik
Suasana mendadak hening. Keenan menarik napas dalam. Ia menatap Aruna sejenak, seolah meminta izin. Aruna hanya mengangguk pelan, wajahnya merona merah, perpaduan antara malu dan haru bahagia. Yosua, yang tadinya sibuk dengan ponselnya, kini ikut menoleh dengan rasa penasaran."Aruna tidak hanya







