Keenan meletakkan ponsel itu kembali ke meja Aruna dengan gerakan pelan, menghindari kontak mata. Aruna mendengus kesal, ia berdiri dari kursinya dan mendekati Keenan yang tampak salah tingkah. "Kamu benar-benar gila, Keenan! Kamu baru saja membentak, Zaskia! Sahabatku! Apa kamu pikir semua yang menghubungi ku itu, Rio?" omel Aruna, wajahnya memerah karena menahan malu sekaligus marah. "Aku tidak tahu itu Zaskia, Aruna. Lagipula, kamu tersenyum sangat manis tadi. Aku tidak suka ada orang lain yang membuatmu tersenyum seperti itu selain aku," Keenan berusaha membela diri, suaranya merendah, mencoba mencari pembenaran atas sikap posesifnya yang liar. "Itu namanya berlebihan! Kita sedang di kantor, Pak Keenan. Tolong jaga sikap Anda!" Aruna membalikkan badan, hendak kembali duduk di kursinya, namun tangan kekar Keenan dengan cepat menyambar pinggangnya. "Lepaskan, Keenan! Aku mau bekerja," protes Aruna, namun tubuhnya justru semakin rapat menempel pada dada bidang Keenan. "Bel
Read more