Begitu pintu apartemen tertutup, suasana mendadak berubah. Saat Aruna hendak melangkah masuk ke arah kamar, tangan Keenan langsung mencengkramnya kuat. Pria itu memutar tubuh Aruna hingga punggung wanita itu membentur pintu apartemen yang sudah terkunci."Keenan... Lepaskan dulu, aku mau ganti baju," rintih Aruna, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat."Ganti baju? Untuk apa? Toh nanti akan aku lepas juga semuanya, kan?" gumam Keenan serak. Ia menumpu kedua tangannya di sisi kepala Aruna, mengunci pergerakan wanita itu.Wajah Keenan mendekat, hidungnya bersentuhan dengan hidung Aruna. "Kamu pikir aku lupa apa yang kamu lakukan di lorong kantor tadi, hm? Kakiku masih sakit, dan nagaku... Dia menuntut ganti rugi yang besar, Aruna.""Itu karena kamu yang mulai duluan, Keenan!" balas Aruna dengan berani, meski napasnya mulai tersengal saat bibir Keenan mulai bergeser ke arah daun telinganya."Dan sekarang, aku akan menyelesaikannya,"
Dernière mise à jour : 2026-01-26 Read More