LOGINKeenan menarik tangan Aruna, mencium jemarinya yang gemetar dengan penuh perasaan. "Tugas pertamaku sebagai suami untuk melindungi mu sudah aku lakukan..." "Jangan bicara lagi, Keenan! Kamu hampir mati untuk kedua kalinya!" Aruna memeluk kepala Keenan, menempelkan wajahnya ke pipi Keenan yang dingin. "Aruna..." Keenan mendongak, menatap mata Aruna dengan pandangan yang dalam, sensual, dan penuh kepemilikan. "Sekarang tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi Felicia. Hanya kita." Keenan menarik tengkuk Aruna, mengabaikan kerumunan orang di sekitar mereka. Ia melumat bibir Aruna dengan ciuman yang sangat intens. Ciuman itu bukan lagi ciuman ketakutan, melainkan ciuman kemenangan. Aruna membalasnya dengan hasrat yang sama, merasakan gairah yang kembali tersulut setelah ketegangan maut yang baru saja mereka lewati. Lidah Keenan menjelajah dengan posesif, seolah ingin memastikan bahwa wanita di pelukannya ini benar-benar telah sah menjadi miliknya. "Bawa dia ke rumah sakit sekarang
Keenan menatap Aruna, tangannya meremas jari-jari Aruna dengan sangat kuat hingga cincin pernikahan mereka saling beradu. "Felicia... Dia melarikan diri dari penjagaan polisi di rumah sakit satu jam yang lalu." Aruna tersentak. Rasa dingin seketika terasa di punggungnya. Belum sempat ia merespons, lampu gedung tiba-tiba padam total. Suasana menjadi gelap gulita. Teriakan panik mulai terdengar dari arah tamu undangan. Di tengah kegelapan itu, sebuah suara tawa renyah yang sangat dikenali Aruna bergema melalui sistem pengeras suara gereja. "Pernikahan yang indah, Keenan... Aruna..." suara Felicia terdengar seperti bisikan iblis. "Tapi bukankah sebuah pernikahan harus diakhiri dengan sebuah kembang api? Aku punya kejutan terakhir untuk kalian di bawah kursi altar itu, dalam lima menit... Itu waktu yang kalian punya sebelum gedung ini rata dengan tanah." Keenan langsung menarik Aruna ke dalam pelukannya, melindunginya dengan tubuhnya yang masih lemah. "Nando! Evakuasi semua orang
Tidak lama kemudian, sosok pria muncul dari arah pintu. Namun itu bukan Keenan yang berjalan gagah seperti biasanya. Nando mendorong kursi roda dengan perlahan. Di atasnya, duduk Keenan Ignazio Arkana. Ia mengenakan setelan tuksedo hitam yang kontras dengan perban putih yang masih melingkari kepalanya. Wajahnya masih terlihat pucat pasi, dan di bawah kemeja putihnya yang kaku, terlihat tonjolan kain kasa yang membalut luka di dadanya. Mata Keenan yang sayu namun tajam segera mengunci pandangan Aruna. Sebuah senyum tipis, sangat tipis muncul di bibirnya yang masih sedikit membiru. "Keenan..." Aruna menutup mulutnya dengan tangan, air mata yang sejak tadi ditahannya tumpah seketika. Nando mendorong kursi roda itu melewati lorong. Para tamu berdiri, sebagian menutup mulut karena tidak percaya, sebagian lagi menunduk hormat melihat kegigihan pria itu. Saat sampai di depan altar, Keenan memberi isyarat pada Nando. "Bantu aku berdiri," bisik Keenan serak. ”Tapi Keenan, luka jah
Aruna mengguncang bahu Keenan. "Jangan sekarang! Keenan, kamu janji tidak akan meninggalkanku! BANGUN!" Tim medis segera masuk setelah mendengar teriakan Aruna. Tak lama kemudian nando menarik paksa Aruna agar menjauh dari ranjang Keenan. "Aruna, menjauh sedikit, biarkan dokter bekerja dan membantu Keenan!" seru Nando, ia memberi kode pada Zaskia untuk memenangkan Aruna yang meronta-ronta di sudut ruangan. "TIDAK! KEENAN GAK BOLEH MENINGGAL, NANDO! DIA GAK BOLEH MENINGGALKAN AKU SEPERTI INI!" Aruna meraung, menyaksikan dokter menggunakan alat pacu jantung ke dada Keenan. DUG! Tubuh Keenan terangkat dari ranjang. DUG! Sekali lagi. Aruna jatuh berlutut di lantai, menutup telinganya, tidak sanggup mendengar suara mesin yang masih mendatar. Dalam hatinya, ia berteriak, memohon agar nyawanya saja yang diambil sebagai ganti. ”Denyut jantungnya kembali!" seru sang dokter. Aruna mendongak. Bunyi beep... beep... beep... kembali terdengar, meskipun sangat lambat. Dokter men
Di dalam ruang mobil ambulan yang sempit dan berbau antiseptik itu, Aruna duduk bersimpuh di lantai ambulans, ia terus menggenggam tangan Keenan yang sedingin es. "Keenan, kumohon... Jangan seperti ini. Buka matamu!" tangis Aruna pecah. Suara bising sirine begitu memekakkan telinganya, disaat jantungnya berdebar semakin cepat, detak jantung Keenan justru tampak melemah di layar monitor, itu begitu menakutkan baginya. Petugas medis sibuk memasang masker oksigen dan menekan dada Keenan. Setiap kali tubuh Keenan tersentak akibat alat pemompa jantung, hati Aruna ikut mencelos. Darah masih merembes dari perban di kepala Keenan, membasahi jemari Aruna. "Tekanan darahnya turun drastis! Pasien kehilangan banyak darah!" teriak petugas medis itu ke arah rekannya. Aruna menatap wajah pucat pria yang beberapa jam lalu masih mendekapnya dengan posesif. Pria yang rela melempar nyawanya sendiri ke arah mobil yang melaju kencang demi menyelamatkannya. "Keenan, kamu janji akan menikahiku..
Keenan menggeleng lemah. Ia mengusap kasar wajahnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih mendekap pinggang Aruna dengan posesif. "Aku tidak tahu pasti isinya, Sayang. Tapi sepertinya itu dokumen yang bisa menghancurkan jaringan bisnis gelap musuh papa kamu. Rizal tidak pernah bicara detail padaku di luar negeri, dia hanya bilang punya 'asuransi' untuk melindungimu kalau terjadi sesuatu padanya." Aruna menghela napas panjang. Ia merasa seolah seluruh energinya telah terkuras habis. "Aku ingin pulang, Keenan. Aku tidak bisa berpikir jernih sekarang. Terlalu banyak masalah yang kita lalui hari ini, aku lelah..." Keenan menatap Aruna dengan tatapan penuh permohonan. "Ayo kita pulang ke penthouse. Kita selesaikan ini bersama. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian dalam kondisi seperti ini." "Tidak," tolak Aruna tegas sambil melepaskan pelukan Keenan. "Aku butuh waktu sendiri. Aku tidak ingin melihatmu, tidak ingin melihat Tante Sofia, atau siapa pun. Aku hanya ingin pul







