Vanya tersentak kecil, mengerjap. Jantungnya berdegup kencang, pipinya memerah hebat. Tangan kanannya naik pelan ke kancing piyama, tapi jemarinya gemetar hebat, nyaris ceroboh. Ia mencoba membuka satu kancing, tapi jari telunjuknya tergelincir dua kali sebelum berhasil. “Kamu membuatku gila, Van,” geram Jay pelan. “Gerakanmu lama.” Vanya masih berusaha membuka kancing-kancingnya dengan tangan gemetar setelah sudah berhasil membuka dua kancing teratas. “T-tunggu, sabar. A … aku masih buka,” ucap Vanya gemetar. Jay mengusap wajah kasar, rahangnya berdenyut. Aroma itu sudah terlalu menusuk, terlalu manis, terlalu menggoda setelah semua ketegangan yang menumpuk sejak tadi. Kendalinya sudah di ujung. Ia menghela napas kasar, suaranya parau dan mulai sedikit kesal. “Van … kamu bikin aku susah menahan diri,” geramnya serak. Vanya menggigit bibir. “Kalau aku … bikin kamu susah, maaf.” Jay menghela napas kasar, lalu tatapannya berubah gelap total. “Maafmu sudah nggak cukup
Terakhir Diperbarui : 2026-02-19 Baca selengkapnya