Jay menarik Vanya kembali ke pangkuannya, posisi mereka kini sangat intim. Ia memandu Vanya pelan, masuk dengan hati-hati, gerakannya lambat tapi dalam.“Hah … besar banget!” Vanya mengerang keras, tangannya mencengkram bahu Jay. Tubuhnya menyesuaikan, panas dan penuh.“Tahan,” ucap Jay serak.Jay bergerak pelan dulu, ritmenya terkendali, tapi semakin lama semakin dalam. Napas mereka saling bercampur, keringat mulai menetes, aroma feromon yang tersisa bercampur dengan aroma tubuh mereka berdua.“Jay—ah … lebih cepat,” desah Vanya, pinggulnya bergerak mengikuti ritme Jay.“Ka-kamu … masih saja ketat!” geram Jay pelan.Jay menambah kecepatan, tangannya mencengkram pinggang Vanya, memandu gerakan mereka berdua. Ia menunduk, mencium bibir Vanya dengan lapar, lidah mereka saling bertaut.“Ngh …!” Vanya mencapai puncak kedua dengan jeritan kecil yang tertahan di tenggorokan Jay. Tubuhnya menegang keras, bergetar hebat.“Kamu … hanya kamu yang bikin aku bisa lepas. Hah! Aku mau—”Tubuh Jay m
Last Updated : 2026-02-10 Read more