Jay terdiam dengan napas masih tersengal hebat. Dahinya berkerut ragu. Vanya masih diatasnya menunggu respons Jay yang tak kunjung ada. Napasnya masih belum stabil, tapi aroma Vanya perlahan menguap di udara. Vanya akhirnya bertanya dengan suara serak. "K-kenapa?" Dada Jay masih naik turun, tapi akhirnya menjawab dengan suara parau. Sekejap ia mengepal tangannya sebentar, napas tertahan. “Kita nggak usah lanjutkan observasi yang … konyol ini.” “Jay? Tapi kan kamu yang setuju—” “Cukup dua,” potong Jay lembut, tapi tegas. “Cukup dua, dan kita sudahi. Aku setuju tadi karena berpikir ini satu-satunya cara. Tapi sekarang, aku lihat kamu hampir pingsan.” Vanya mengernyit bingung, mulai protes meski napasnya masih terengah. “Tapi Jay … ini demi stabilitas kondisi tubuhku untuk jangka panjang.” Vanya menggeleng pelan, matanya mulai berair. “A-aku nggak mau membebani kamu lebih jauh lagi. Kamu … juga mau sembuh, kan?” Jay mengangkat kedua tangannya, menahan pinggul Vanya yang masi
Last Updated : 2026-02-13 Read more