Vanya berjalan cepat menyusuri koridor panjang mansion. Air matanya masih mengalir pelan, tapi ia tidak lagi menangis tersedu. Hanya sesak yang semakin menekan dada, napasnya pendek-pendek, dan tiba-tiba .… Tubuhnya terasa panas. Bukan panas seperti bara yang membakar seperti dulu, tapi hangat yang menyebar perlahan dari perut ke dada, ke leher, ke pipi. Jantungnya berdegup kencang, tidak teratur, seperti ada yang menekan dari dalam. Keringat tipis muncul di pelipis dan punggungnya. “Feromonku … aktif lagi,” gumam Vanya pelan. Vanya berhenti mendadak di sudut koridor. Ia bersandar ke dinding, tangan kanannya menekan dada, mencoba menahan napas yang semakin cepat. Panas tubuhnya tidak sekuat biasanya, tapi tetap ada. Aroma manis mulai samar-samar tercium dari tubuhnya sendiri. Tajam dan menggoda. Ia menutup mata, mencoba latihan pernapasan yang ia pelajari, berulang hingga empat kali. Panas di tubuhnya perlahan mereda, tidak hilang total, tapi intensitasnya turun. Degup
Last Updated : 2026-02-25 Read more