Pagi itu, istana terasa terlalu sempit. Udara di dalamnya penuh bisikan, penuh bayangan yang tidak terlihat. Elora berdiri di depan cermin, menatap wajahnya sendiri. Ia masih hidup, masih bebas, tapi rasanya seperti setiap langkah diawasi..Cassreen sudah memperingatkan agar ia tidak keluar. Namun, Elora hanya ingin sesuatu yang sederhana. Sesuatu yang normal. Jadi ia mengenakan mantel biasa, menutupi rambutnya dengan tudung, dan keluar melalui gerbang samping dengan dua penjaga di kejauhan.Pasar kota sudah ramai. Suara pedagang memanggil. Aroma roti hangat bercampur buah segar. Untuk beberapa saat, Elora hampir lupa tentang Dewan, tentang Seravin, tentang Ordo Malam.Ia berhenti di sebuah kios buah. Apel merah tersusun rapi. Anggur menggantung seperti permata. Penjualnya seorang wanita tua dengan senyum ramah."Mau yang manis, Nona?"Elora tersenyum kecil. "Yang paling segar."Ia memilih beberapa buah, merasakan sesuatu yang ha
Last Updated : 2026-02-07 Read more