Sore itu, Catherine menghabiskan waktu di depan meja meski otaknya tak mampu menuliskan satu kalimat pun dengan benar. Matanya memandang keluar, menantikan kereta Frederick. Tetapi sampai matahari terbenam, yang ditunggu tak kunjung pulang. "My lady, anda tidak turun makan malam?" ujar Geralda cemas. Sudah tiga malam berturut-turut lord Hardy selalu pulang terlambat. "Kalau menunda lagi perut anda bisa kambuh."Catherine tak punya pilihan selain menurut. Ketika sampai di ruang makan, tampak wajah mertuanya lebih muram dari biasa. Entah apa lagi yang memantik kemarahan wanita itu. "Selamat malam, Ibu."Sapaan Catherine hanya bertemu udara dingin.Perapian di ruang makan dibuat lebih besar, tetap saja kalah dengan kebekuan yang terpancar dari muka lady Emma. Rasanya Catherine mau mengecil dan menghilang saja. Diam-diam dia duduk di sudut terjauh. Sebisa mungkin menghindari kontak dengan mertua. Sete
Read more