Setelah kepergian mertua dan ipar, Catherine menghabiskan waktu dalam kesendirian. Pakaiannya sudah dimasukkan dalam koper tetapi masih mau kasih Frederick kesempatan sekali lagi. Kalau masih bertindak keterlaluan, jangan salahkan dia bertindak. Ketika waktu minum teh tiba, Geralda tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya. "Ada apa?" ujar Catherine. Firasatnya langsung tak enak melihat sikap sungkan pelayannya. "Katakan saja apa masalahnya. Walau pahit, obat harus tetap ditelan.""My lady... wanita itu datang kemari bersama anaknya."Betapa cepat kabar berhembus. Belum setengah hari kepergian mertuanya, si pengacau sudah langsung menunjukkan taring. Entah apa tujuannya kemari. "Suruh dia menunggu. Aku bersiap-siap dulu.""Anda yakin, My lady? Suruh saja penjaga menyeret manusia tak tahu malu itu.""Itu adalah hal yang paling dia inginkan. Semakin kita agresif, semakin mudah fitnah menyebar."
Read more