Dalam kesunyian malam, Catherine meringkuk di pojokan. Kaki dan tangannya diikat karena kejadian tadi tadi siang. Matanya memandang sekeliling kamar, dan tetap tak menemukan celah untuk kabur. Penculiknya begitu kejam. Dia tak diizinkan makan atau buang air. Kalau terus begini, bisa mati kapan saja. Ketika waktu menunjukkan jam tujuh, pintu kamar terbuka. Orang yang datang adalah pelayan bermuka masam. "Cepat habiskan makannya. Jangan macam-macam. Kalau tuan marah, dia bisa membunuhmu kapan saja."Bibir kering Catherine tersenyum jijik. "Itu lebih baik. Setidaknya tak perlu hidup dengan manusia seperti kalian."Mata tanpa cahaya itu berair. Makin lama, makin deras. Catherine bahkan tak bisa mengusapnya. "Aku mau buang air," lirihnya acuh tak acuh. "Kau tak mau kamar majikanmu kotor, kan?"Pelayan mengamati wajah putus asa-nya. Mungkin iba, akhirnya berubah pikiran. "Oke, tapi jangan menipu. Kalau mau hidup,
Last Updated : 2026-01-27 Read more