Malam itu, Catherine kembali menginap di tempat yang asing. Lahan pertaniannya yang luas dikelilingi pedesaan sepi. Udara dingin berpasangan dengan malam yang begitu pekat. Meski lampu-lampu sudah menyala sejak tadi, tak satu pun pelayan memanggil mereka makan. Waktu terus berlalu tetapi Catherine ditinggal dalam penantian. "My lady, mereka berani sekali. Saya yakin mereka sengaja."Catherine tersenyum dingin, memandang pantulan wajahnya di cermin rias. Kamar ini dulu ditempati istri Mr Chapman sehingga perabotan kaum wanita masih tersedia. "Sengaja atau tidak, kita akan tahu besok. Untuk sekarang, panaskan saja makanan yang kita bawa dari penginapan terakhir kali."Hati Geralda sedih. Majikannya adalah putri bangsawan mulia, bagaimana bisa menyantap hidangan yang dipanaskan? Dia yang rakyat jelata saja kesulitan menelannya. "Apa lagi yang kau tunggu? Kita tak akan mati hanya karena menyantap makanan sisa.""Baik, My lady."Sepeninggal pelayannya, Catherine mulai menulis apa-apa
Dernière mise à jour : 2026-02-17 Read More