keesokan paginya, dikediaman Dewangga selesai sarapan bersama."Zero, besok kamu akan mulai mengurus satu lagi perusahaan Papa. Kamu bisa, kan? Kamu sudah terlalu lama beristirahat, sementara kembaranmu, Cleo, sudah mulai menunjukkan hasil dari pekerjaan-pekerjaan kecil yang Papa berikan." Ujar nya sambil menikmati aroma kopi terakhir. Zero menyunggingkan senyum sinis, lalu berkata, "Mengerjakan apa, Pa? Aku masih sering melihat dia keluyuran di jam kantor dengan alasan 'riset lapangan' yang tidak jelas."Dewangga jelas tahu, bagaimana putranya, tapi memberikan keduanya kesempatan yang sama, adalah satu hal yang sudah dia pertimbangkan sejak lama."Perusahaan cabang ini kecil, kamu tidak akan kesulitan. Kelak, setelah resmi menikah dengan Avera, kamu bisa membangun imperium yang lebih besar bersama Keluarga Wijaya. Itu akan jadi milikmu sepenuhnya. Kamu bebas mengelola dengan cara apa pun, bahkan jika kamu ingin merombak seluruh jajarannya."Zero terdiam sejenak. Tawaran itu adala
Read More