Share

Bab 103 - Alya

Penulis: Pipin
last update Tanggal publikasi: 2026-05-08 16:33:54

"Ada hal penting apa sampai kamu harus ke sini, Nak? Bagaimana pekerjaanmu? Apa bosmu galak? Kalau mereka berani macam-macam, bilang ke Papa..." Hans memberondong dengan pertanyaan, tangannya mengusap bahu putrinya dengan sayang.

​Alya tertawa kecil, melihat sikap ayahnya yang tidak berubah sejak ia kecil. Meski kini usianya sudah menginjak 25 tahun, bagi Hans, Alya tetaplah gadis kecil yang harus dilindungi dari kerasnya dunia.

​"Papa, aku bukan anak kecil lagi," ujar Alya lembut setelah taw
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 144 - Kebahgiaan Utuh keluarga Dewangga

    Beberapa minggu kemudian, suasana di kediaman utama Dewangga bukannya makin tenang, malah makin gempar. Kabar kehamilan kedua Syifa sukses membuat sang kepala keluarga kehilangan akal sehat bisnisnya dan berubah menjadi pria super protektif yang tak masuk akal. "Mas! Tolong ya, Mas! Aku ini cuma mau turun tangga ke lantai bawah, kamu tidak perlu sampai memesan dan memasang lift di dalam rumah ini, paham?!" tegas Syifa, berdiri di undakan tangga teratas dengan kedua tangan di pinggang. Wajah cantiknya merona merah karena menahan kesal sekaligus geli. Bayangkan saja, baru tadi pagi Syifa berniat jalan-jalan pagi ke taman depan. Namun, Dewangga dengan wajah seriusnya langsung memerintahkan dua perawat pribadi agar Syifa duduk di kursi roda dan didorong sepelan mungkin. "Sayang, dengarkan aku dulu... Tangga ini licin, bagaimana kalau kamu—" "Dan aku tidak butuh perawat pribadi, Mas! Aku ini sedang hamil, bukan nenek-nenek jompo yang sedang sakit sakau! Kalau kamu memang mau kursi rod

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 143 - Pelabuhan terakhir sang Mantan pelakor

    ​"Kita mau ke pernikahan siapa, Sayang?" tanya Dewangga ragu sembari membetulkan jam tangan dimobil. Tidak biasanya Syifa mendadak mengajaknya pergi ke acara pernikahan yang lokasinya jauh dari sirkel bisnis mereka. ​Syifa hanya tersenyum misterius, menggenggam tangan suaminya erat. "Nanti kamu juga tahu, Mas." ​Ini adalah pernikahan Safa, kakak kandung Syifa. Kakak perempuan yang selama bertahun-tahun hidupnya hanya menjadi benalu, mengganggu kebahagiaan orang lain, menjadi pelakor, dan selalu menjaga jarak penuh kebencian dengan Syifa. Namun, takdir berkata lain ketika seminggu yang lalu, keduanya tidak sengaja bertemu di sebuah pusat perbelanjaan. ​Saat itu, Safa mendekat dengan langkah ragu. Sudah berapa tahun lamanya Safa tidak menatap adik kandungnya itu sedekat ini? Di tangannya, terselip sebuah undangan pernikahan sederhana. ​"Syifa..." panggil Safa lirih sembari menyodorkan undangan itu. "Aku sudah mengunjungi makam Ibu minggu lalu, di sana untuk meminta restu. Dan... seb

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 142 - Ketika Hasrat menjadi Rumah

    ​Satu tahun setelah duka mendalam melanda Zero, kediaman utama Dewangga tidak lagi diselimuti sunyi yang mencekam. Rumah megah itu kini justru berubah menjadi istana kecil yang penuh dengan keriuhan dan tawa melengking dari tiga anak kecil sekaligus. ​Ada Anaya yang kini hampir menginjak usia tiga tahun, Aura si bungsu yang terpaut empat bulan di bawahnya, serta si kecil Aruni—putri mendiang Alya dan Zero—yang juga dititipkan di sana selama Zero fokus menata kembali waras dan bisnisnya. Ketiga balita itu sejatinya memiliki babysitter masing-masing yang super ketat. Namun tetap saja, sebagai ibu kandung, ibu sambung, sekaligus—lucunya—menjadi "nenek muda" di usianya yang baru menginjak 24 tahun, Syifa tetap memegang kendali penuh untuk mengawasi mereka, terutama Aruni yang merupakan cucu sambungnya. ​Sore itu, Syifa baru saja selesai memastikan Aruni meminum susunya saat ia menangkap siluet seorang pria jangkung tegap di ambang pintu masuk utama. ​"Mas? Kamu sudah pulang?" tanya Syi

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 141 - Surat Alya

    Langit di atas pemakaman seolah ikut berduka, diselimuti mendung tebal yang menggantung rendah. Suasana di sekitar gundukan tanah yang masih basah itu penuh dengan isak tangis yang menyayat hati. Di sana, Zero berdiri mematung bagai patung tanpa nyawa. Tak ada lagi air mata yang mengalir di pipinya, tak ada pula suara yang keluar dari bibirnya. Sorot matanya kosong, menatap lurus pada papan nisan bertuliskan nama wanita yang menjadi separuh alasan hidupnya. Di sampingnya, berdiri Hans dan Elia—kedua orang tua Alya—dengan tubuh yang terguncang hebat oleh duka yang teramat dalam. "Kalau bukan karena ulahmu... anak perempuan saya pasti masih hidup sekarang! Dasar laki-laki hina!" teriak Hans tiba-tiba, suaranya parau dan pecah karena amarah yang bercampur dengan rasa kehilangan yang masif. Pria paruh baya itu tidak memedulikan tatapan orang-orang di sekitar pemakaman. Baginya, Zero adalah pelaku tunggal di balik kematian putrinya. Zero hanya diam. Ia sama sekali tidak bergerak, tidak

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 140 - Selamat Tinggal, Al.

    Pintu ruang operasi akhirnya digeser terbuka. Namun, tidak ada senyum lega dari tim medis. Dokter yang keluar hanya menundukkan kepala dalam-dalam, menepuk bahu Zero pelan sebelum membisikkan kalimat yang seketika merenggut seluruh paksa kewarasan pria itu. Alya tidak bisa diselamatkan. Tapi bayi mereka hidup. Zero dipaksa melangkah masuk ke dalam ruangan yang kini terasa begitu dingin dan asing. Tubuhnya lemas bukan main, seolah-olah seluruh tulang di raganya lolos begitu saja. Kakinya bergetar hebat, terseok-seok meniti lantai semen medis yang menyengat hidung. Zero tidak berteriak. Ia tidak mengamuk. Kehancuran yang sesungguhnya justru tidak menyisakan ruang untuk suara. Ia hanya berjalan lambat, memandangi sosok yang terbaring kaku di atas ranjang operasi dengan selembar kain hijau yang menutupi sebagian dadanya. Wajah itu begitu damai, terlalu damai hingga terlihat sangat kejam bagi Zero. "Al..." Panggil Zero lirih. Suaranya pec

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 139 - Titip anak kita, ya..

    ​Ciiittt! ​Ban mobil sport Zero mencicit keras, bergesekan dengan aspal saat ia mengerem mendadak tepat di lobi darurat Rumah Sakit Pusat. Zero langsung keluar dari pintu kemudi, memutari mobil dengan napas memburu dan jantung yang berdegup menggila. Tanpa menunggu bantuan brankar dari petugas yang berlarian, Zero langsung menerobos masuk, menggendong sendiri tubuh Alya keluar dari mobil. ​Darah. Napas Zero tercekat saat telapak tangannya yang menopang paha dan bagian bawah gaun Alya mendadak terasa basah dan hangat. Di bawah temaram lampu lobi, cairan merah kental mengalir deras, membasahi jok mobil dan kini mengotori kemeja putih yang dikenakan Zero. ​"Dokter! Suster! Tolong istri saya!" teriak Zero parau, suaranya menggema membelah keheningan koridor instalasi gawat darurat. ​Tubuh Alya sudah sepenuhnya lemas di dalam dekapannya, kepalanya terkulai pasrah di bahu bidang Zero dengan sisa kesadaran yang timbul tenggelam. P

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 2 - Harga Diri dan Ancaman

    ​"Jangan dimasukkan hati, Syifa," bisik Bi Sumi sambil mengusap bahunya ketika mereka sudah didapur."Tuan muda memang begitu sejak kecil. Keras kepala." Ucap Bi sumi. Syifa hampir mengiris jarinya sendiri kalau dia tidak segera merebut pisau itu."Mereka kenapa harus pulang sih, Bik? Bagaimana kal

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 1 - Mainan Baru buat sikembar

    Suara langkah kaki Nyonya Hana yang beradu dengan lantai marmer terdengar begitu angkuh, menggema di ruang tamu kediaman Dewangga yang megah namun dingin."Syifa, selagi saya di luar negeri, kamu bantu urus dua majikanmu lagi yang akan pulang sebentar lagi," ucap Nyonya Hana dingin tanpa menoleh.S

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 133 -Sumpah dibalik air nata

    Begitu Hans melangkah keluar dari koridor bangsal rawat, langkah kakinya tampak gontai dan berat. Zero yang baru saja kembali dari urusan garmen langsung menghampirinya dengan raut wajah penuh harap. Ia berharap ada kabar baik, ada keajaiban bahwa Hans berhasil melunakkan keras kepalanya Alya. Na

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 127 - Seseorang Dibalik jeruji RSJ

    "Terima kasih, Al. Berkat kamu, usaha ini berhasil," ucap Zero tulus. Sorot matanya yang dulu liar kini memancarkan binar kekaguman yang mendalam pada istrinya.​Dalam waktu satu bulan, segalanya berubah drastis. Hanya bermodalkan keahlian dan otak cerdas Alya, mereka berhasil melenyapka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status