LOGIN"Kenapa kamu diam saja? Cepat jawab!" bentakan Nunik memecah keheningan ruang tamu.Niar tersentak. Ia menundukkan kepala sesaat.Otaknya berputar cepat mencari alasan. Semuanya terjadi terlalu mendadak, dan ia sama sekali tidak menyangka rahasia tentang sertifikat rumah akan terbongkar secepat ini.Pak Jaya ikut angkat bicara. Nada suaranya jauh lebih dingin dari biasanya. "Pasti kamu gadaikan sertifikat itu, dan uangnya kamu pakai buat menyenangkan laki-laki nggak jelas itu."Niar langsung mengangkat kepala. "Enggak, Pa!"Namun, suara bantahannya terdengar tidak meyakinkan. Dalam hati ia mulai panik."Duh, gawat, gimana nih? Mana aku belum dapat uangnya buat nebus."Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Untungnya, ia masih sempat berpikir jernih."Tapi baru satu bulanan juga. Jatuh temponya enam bulan. Masih ada waktu. Aku harus cari alasan dulu supaya Mama sama Papa nggak marah."Niar menarik napas panjang, lalu mencoba memasang ekspresi sedih. "Ma, Pa." Ia menunduk. "Aku mi
"Kamu nggak usah drama deh." Aloy langsung memotong ucapan Niar sebelum wanita itu sempat menjelaskan lebih jauh."Aku tahu kamu mau ngebujuk aku kan biar aku nggak marah lagi sama kamu." Nada suaranya terdengar meremehkan.Niar yang berdiri di depan pintu langsung mengernyit kesal."Aku nggak bakal marah sama kamu." Aloy melanjutkan sambil melipat kedua tangan di dada, "kalau kamu ada uang lima ratus jutanya."Kalimat itu membuat wajah Niar memerah menahan emosi. Tangannya mengepal kuat di samping tubuh. Rasanya ia ingin melempar sesuatu ke wajah pria itu.Namun, ia masih berusaha menahan diri. "Dasar mata duitan," batin Niar geram.Sejak datang tadi, Aloy bahkan tidak bertanya kabarnya, tidak bertanya mengapa ia datang, juga tidak tertarik pada apa yang ingin ia sampaikan.Yang ada di kepala pria itu hanya uang, uang, dan uang.Niar menarik napas panjang. "Oke," katanya dingin. "Kalau kamu nggak mau dengerin aku." Ia menatap Aloy tajam, "awas ya jangan nyesel."Setelah mengucapkan i
Rasa penasaran mulai menggerogoti pikiran Niar.Sejak melihat Charol keluar dari bank bersama Suli, hatinya terasa tidak tenang. Ada sesuatu yang janggal.Tanpa berpikir panjang, Niar segera menyalakan motornya dan mengikuti mereka diam-diam.Beberapa menit kemudian, mobil Charol berhenti di sebuah restoran mewah di pusat kota.Niar ikut menghentikan motornya tak jauh dari sana. Ia buru-buru memakai topi dan masker.Menutupi wajahnya serapat mungkin."Jangan sampai ketahuan, kalau aku menyelidiki mereka," batinnya.Ia lalu berjalan masuk ke restoran dengan hati-hati. Dari balik masker, matanya terus mencari keberadaan Charol dan Suli.Dan tak lama, ia menemukan mereka duduk di dekat jendela Niar langsung memilih meja yang tidak terlalu jauh. Namun, cukup aman agar tidak dikenali.Ia duduk membelakangi sebagian ruangan.Sesekali melirik diam-diam. Seorang pelayan datang menghampiri."Silahkan, Mbak, mau pesan apa?""Es lemon tea saja," jawab Niar cepat.Pelayan itu mengangguk lalu perg
Bab 63Suasana kafe mulai sedikit ramai menjelang sore.Beberapa pengunjung datang silih berganti.Namun di sudut dekat jendela, Aloy masih duduk berhadapan dengan Suli.Pria itu tampak begitu percaya diri. Sesekali ia tersenyum sendiri membayangkan keuntungan besar yang akan ia dapatkan.Sementara Suli tetap memainkan perannya dengan sempurna, tenang, elegan, dan meyakinkan."Jadi," kata Suli sambil meletakkan gelasnya pelan. "Kalau uangnya sudah siap, nanti aku bantu proses investasi emasnya."Aloy langsung mengangguk cepat. "Oke, siap."Ia membungkuk sedikit lalu menarik koper hitam yang sejak tadi berada di samping kursinya.Koper itu tampak cukup berat. Dengan hati-hati, Aloy mendorong koper tersebut ke arah Suli. "Ini uangnya."Suli melirik koper itu sekilas, lalu membukanya sedikit. Matanya menangkap tumpukan uang rapi di dalamnya. Lima ratus juta lengkap.Suli segera menutup kembali koper itu. Meski dalam hati ia cukup terkejut melihat uang sebanyak itu, wajahnya tetap santai.
"Hallo?"Suli menjawab panggilan itu dengan nada santai.Sementara Charol duduk diam di sampingnya.Tatapannya fokus.Dari seberang, suara Aloy terdengar jelas. "Ayo ketemu di kafe dekat alun-alun. Aku sudah ada uang buat investasi."Suli sengaja menyalakan loudspeaker.Sehingga seluruh percakapan terdengar jelas di ruang tamu kecil itu.Charol menyandarkan tubuhnya perlahan.Sudut bibirnya terangkat tipis.Akhirnya, umpannya benar-benar dimakan.Suli melirik ke arah Charol. Dan Charol membalas dengan anggukan kecil."Oke," kata Suli santai. "Sekarang aku menuju ke lokasi.""Siap, aku tunggu."Panggilan pun berakhir.Ruangan langsung hening beberapa detik.Lalu, Suli menoleh cepat ke arah Charol."Aloy jadi investasi."Charol tersenyum penuh kemenangan. "Bagus."Tatapannya dingin. Namun, ada kepuasan besar di sana.Suli tertawa kecil. "Dia benar-benar gampang dibodohi, ya."Charol terkekeh pelan. "Bukan gampang dibodohi." Ia menyilangkan tangan di dada. "Dia cuma terlalu serakah."Sul
Hari mulai beranjak siang. Matahari bersinar cukup terik di luar studio Andira. Sementara di dalam studio, suasana terasa jauh lebih santai dibanding pagi tadi. Rekaman sepuluh lagu akhirnya selesai. Semua kru terlihat puas. Begitu juga Dimas dan Rizal. Mereka masih duduk di ruang mixing sambil sesekali memutar ulang hasil rekaman Charol. "Bagian ini bagus banget," gumam Rizal sambil menunjuk layar komputer. Dimas mengangguk pelan. "Emosi suaranya dapet." Charol yang duduk di sofa hanya tersenyum kecil. Jujur, ia juga merasa lega. Sejak pagi tenggorokannya bekerja tanpa henti. Namun, hasilnya sesuai harapan. Bahkan lebih. Dimas lalu menoleh ke arah Charol. "Kamu capek?" "Lumayan." Charol tertawa kecil. "Tapi seneng." Rizal tiba-tiba berdiri. "Ngomong-ngomong." Ia mengusap perutnya. "Aku laper banget." Dimas ikut tertawa. "Ya udah." Ia menoleh ke Charol. "Ayo kita makan siang bareng aja." Rizal langsung mengangguk semangat. "Boleh juga. Jarang-jarang kita makan bar
"Oke, kalau kamu nggak mau nurutin aku, kita putus!"Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Aloy, dingin dan tanpa keraguan sedikit pun.Niar terdiam. Dadanya terasa seperti dihantam sesuatu yang keras. Ia bahkan belum sempat menjawab ketika Aloy sudah berdiri dari sofa.Tanpa menoleh lagi, lela
Di sebuah tempat yang jauh dari keramaian kota, berdiri sebuah gudang tua yang sudah lama tidak digunakan.Bangunan itu tampak kusam dengan cat tembok yang mengelupas dan pintu besi yang berkarat. Di sekelilingnya hanya ada semak-semak liar dan tanah kosong yang jarang dilewati orang.Angin sore be
Setelah mendapat uang tersebut, Niar tidak pulang ke rumah orang tuanya, melainkan langsung ke apartemennya.Sampai apartemen, Niar langsung mengirim pesan pada Aloy."Aku sudah dapat uangnya."Tak butuh waktu lama, balasan dari Aloy masuk."Bagus. Kamu memang hebat, Sayang. Kita tinggal selangkah
Malam semakin larut ketika Niar akhirnya sampai di rumah orang tuanya. Rumah itu tampak gelap, hanya lampu teras kecil yang masih menyala redup. Hatinya berdebar tidak karuan. Ia tahu apa yang akan ia lakukan malam ini bukan hal kecil.Perlahan ia membuka pintu dengan kunci cadangan yang masih ia







