MasukSatu minggu berlalu. Waktu terasa cepat bagi sebagian orang. Namun, bagi Aloy minggu itu terasa seperti penantian panjang yang penuh harapan.Harapan akan uang, harapan akan perubahan nasib, dan tentu saja harapan akan tiga miliar.Pagi itu, langit terlihat cerah. Aloy berdiri di depan rumah megah milik Geral. Ia menatap bangunan itu cukup lama. Rumah dengan pagar tinggi, halaman luas, dan mobil-mobil mewah terparkir rapi di dalamnya.Ia merapikan bajunya, menarik napas dalam, lalu menekan bel. Tak lama pintu terbuka.Seorang asisten rumah tangga menyambutnya. "Silakan masuk, Pak. Tuan sudah menunggu."Aloy mengangguk. "Terima kasih."Ia melangkah masuk, matanya langsung bergerak ke sana kemari. Interior rumah itu sungguh mewah, elegan, dan mahal. Sangat jauh dibandingkan dengan rumah yang ia miliki sekarang.Beberapa saat kemudian, Geral muncul dari arah ruang tengah. Ia mengenakan pakaian santai namun tetap terlihat berkelas."Halo Aloy, kita ketemu lagi," sapanya singkat.Aloy lang
"Hallo, Aloy, ada apa ya?"Suara di seberang terdengar tenang, dingin, dan berwibawa.Aloy langsung menelan ludah. Ia tahu betul suara itu milik Geral. Satu-satunya orang yang saat ini bisa ia andalkan."Maaf, bro, eh … Toro." Ia mencoba tetap santai.Namun, nada suara Aloy terdengar sedikit terburu-buru. "Aku lagi butuh bantuan nih. Darurat."Geral di seberang terdiam sejenak. "Darurat gimana?"Aloy melirik ke arah dalam restoran, melihat Charol dan Suli dari kejauhan. Jantungnya berdebar."Pinjemin dua puluh juta sekarang, bisa nggak?"Ia bicara cepat. "Nanti sekalian gabungin saja sama yang lima ratus juta minggu depan."Hening beberapa detik. Aloy mulai gelisah."Bro?" panggilnya lagi.Geral tersenyum tipis di balik ponselnya.Ia tahu, umpan sudah benar-benar termakan."Ya sudah," jawabnya akhirnya. "Aku transfer sekarang."Wajah Aloy langsung berbinar. "Serius? Wah, makasih banget, bro!"Panggilan pun berakhir. Tak sampai satu menit, ponsel Aloy berbunyi. Notifikasi masuk.Ia lan
"Mas Aloy sini gabung saja sama kita, aku pesenin makan sekalian, ya?" tawar Charol dengan nada santai, seolah pertemuan itu benar-benar kebetulan.Aloy sempat terlihat kikuk.Matanya bergantian menatap Charol dan Suli.Ada rasa canggung. Namun, di sisi lain, ada juga rasa penasaran. Dan tentu saja kesempatan kesempatan emas tidak bisa dilewatkan begitu saja."Eh, nggak enak, aku Cha," ucapnya basa-basi.Namun langkahnya justru sudah mendekat.Charol tersenyum tipis. "Ah, santai saja. Lagi pula Laras yang traktir," katanya sambil melirik Suli.Suli yang mengerti maksud Charol langsung mengangguk elegan."Iya, Mas. Nggak apa-apa kok. Sekalian kenalan lebih dekat." Nada suaranya lembut penuh wibawa.Sangat berbeda dari Suli yang sebenarnya.Aloy tersenyum lebar. "Wah, kalau begitu saya nggak nolak, deh."Pria itu langsung duduk di kursi kosong di antara mereka. Kini, mereka bertiga duduk dalam satu meja. Namun dengan rahasia yang berbeda.Tak lama pelayan datang. Charol memesan beberapa
Sore itu, langit mulai berubah warna.Semburat jingga menghiasi ufuk barat.Charol mengendarai motor maticnya dengan hati yang terasa ringan.Berbeda dari hari-hari sebelumnya, hari ini ia benar-benar merasa hidupnya mulai berubah.Bukan hanya soal rencana balas dendam.Tapi juga masa depannya.Kontrak lima tahun, sepuluh miliar.Angka itu masih terngiang di kepalanya.Senyum tipis tak lepas dari bibirnya sepanjang perjalanan.Tak lama, ia sampai di depan kontrakan kecilnya.Tempat sederhana yang selama ini menjadi saksi perjuangannya.Ia mematikan mesin lalu turun, langkahnya cepat penuh semangat.Pintu pun dibuka. Dan di dalam, Suli sedang duduk di ruang tamu sambil melipat pakaian.Begitu melihat Charol, ia langsung menoleh."Mbak, sudah pulang?"Charol tidak langsung menjawab.Ia berdiri beberapa detik menatap Suli dengan senyum lebar. Senyum yang jarang ia tunjukkan.Suli mengernyit. "Ada apa, Mbak?"Charol mendekat, lalu uduk di samping Suli.Kemudian berkata dengan nada penuh a
Pagi itu, matahari bersinar cerah.Langit biru terbentang luas tanpa awan.Udara terasa segar, membawa semangat baru.Di sebuah sudut kota, Charol mengendarai motor maticnya dengan kecepatan sedang.Wajahnya terlihat tenang.Namun, di balik itu, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Hari itu bukan hari biasa.Hari ini adalah penentuan antara masa lalunya dan masa depan yang ingin ia rebut kembali.Tak lama, ia tiba di depan studio musik Andira.Bangunan itu terlihat sederhana dari luar. Namun, di dalamnya tersimpan banyak mimpi.Dan hari ini mimpi itu kembali memanggilnya.Charol memarkirkan motornya, menarik napas dalam lalu melangkah masuk.Di dalam studio, suasana terasa tenang.Peralatan musik tertata rapi.Lampu-lampu redup menciptakan nuansa fokus.Di ruangan utama, Rizal sudah duduk di depan meja mixing. Sementara di sampingnya, Dimas berdiri sambil memperhatikan layar komputer.Begitu melihat Charol, Rizal langsung tersenyum."Pagi, Charol."Charol membalas de
Halaman rumah megah itu terasa tenang.Angin sore berhembus pelan.Daun-daun tanaman hias bergoyang ringan.Aloy berdiri di samping mobilnya. Sementara Geral masih menatapnya dengan ekspresi tenang."Satu minggu lagi kamu ke sini,” kata Geral akhirnya. Nada suaranya datar namun terdengar tegas.Aloy sedikit mengernyit. "Kenapa harus satu Minggu lagi?""Karna uang sebanyak itu aku nggak ada cash," lanjut Geral.Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Minggu depan aku cairkan dulu di bank. Kalau sekarang aku masih sibuk, jadi belum bisa."Aloy menatap lurus, kemudian mengangguk cepat.Seolah sudah siap dengan jawaban itu."Oh, iya, nggak apa-apa, kok," sahutnya. Ia tersenyum. "Yang penting jelas."Geral mengangguk kecil. "Tentu saja."Mereka kembali masuk rumah dan duduk di ruang tamu. Namun, suasana kini sedikit berbeda.Ada kesepakatan yang baru saja terbentuk.Dan di balik itu, ada rencana yang lebih besar.Aloy bersandar santai. Tangannya memegang gelas minuman, pikiran
Sebuah mobil Porsche berwarna hitam mengkilap melaju mulus di jalanan kota.Beberapa menit kemudian, mobil itu berhenti tepat di depan studio milik Teddy.Mesin dimatikan, suasana menjadi hening.Di dalam mobil, Geral melepas sabuk pengamannya."Aku pulang dulu," katanya santai.Teddy mengangguk. "
Hari Minggu pagi terasa lebih santai dari biasanya.Langit biru cerah membentang tanpa awan, angin sepoi-sepoi menambah suasana nyaman di taman kota yang mulai ramai oleh pengunjung.Di antara deretan pepohonan rindang dan bangku-bangku taman, sebuah mobil Porsche hitam mewah perlahan berhenti di p
Pagi itu, langit tampak cerah.Sinar matahari mulai menyinari kota, membawa suasana baru setelah malam yang penuh ketegangan.Charol sudah bersiap sejak pagi.Ia mengenakan pakaian sederhana namun tetap elegan. Wajahnya dirias natural, cukup untuk menonjolkan kecantikannya tanpa terlihat berlebihan
Malam sudah sangat larut. Jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari saat Charol akhirnya sampai di rumah kontrakannya.Udara malam terasa dingin menusuk kulit. Jalanan di sekitar kontrakan sudah sepi, hanya sesekali terdengar suara kendaraan yang melintas dari kejauhan.Charol mematikan mesin moto







