Keesokan harinya, mentari pagi menyusup lembut melalui tirai kamar Clara, tetapi hatinya tetap terasa berat seperti diselimuti kabut yang tak kunjung menipis. Ia berdiri lama di depan cermin, menatap pantulan wajahnya yang sedikit pucat namun berusaha tegar. Tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya yang masih rata.‘Jaga dirimu…’Suara Raymond semalam kembali terngiang, rendah dan singkat, namun entah mengapa begitu terasa dalam. Setiap kali ia mengingatnya, jantungnya berdegup lebih cepat, seakan ada harapan kecil yang tak ingin ia akui.Di halaman mansion, sebuah mobil hitam sudah menunggu. Hari ini bukan Ken yang membukakan pintu, melainkan anak buah Raymond yang lain. Wajahnya dingin, sikapnya sedikit kaku.Sepanjang perjalanan menuju kampus, Clara menatap layar ponselnya yang gelap. Ia membuka kembali riwayat panggilan semalam, menatap nama Raymond. Kata-kata itu kembali berputar di kepalanya.‘Kenapa ia mengatakan itu dengan nada seperti itu?’ pikir Clara. Ia memejamkan mata, m
Baca selengkapnya