로그인“RAYMOND!!!” Jeritan Clara pecah begitu keras hingga menggema di seluruh atap gedung tua itu, bercampur dengan suara angin laut yang meraung liar di tengah malam. Tubuhnya bergerak spontan tanpa sempat berpikir. Ia langsung berlari menuju tepi gedung dengan napas tersengal dan pandangan yang kabur oleh air mata. “Raymond! Raymond!” Tangannya mencengkeram pembatas beton dingin saat ia menunduk panik ke bawah. Dadanya terasa nyaris berhenti berdetak. Lalu detik berikutnya— “Ah…” Napas Clara tercekat. Beberapa meter di bawah sana, tubuh Raymond terlihat—pria itu masih hidup. Satu tangannya masih mencengkeram batang besi karatan yang mencuat dari sisi gedung. Tubuh pria itu menggantung di udara gelap, hanya bertahan dengan kekuatan lengannya sendiri. Sepatunya sesekali membentur dinding beton kasar, sementara angin malam terus menghantam tubuhnya tanpa ampun. Wajah Raymond penuh luka dan darah. Napasnya terdengar berat bahkan dari atas. Namun matanya masih terbuka, masih menatap
Tubuh Clara gemetar hebat. “Tidak…” suaranya hancur. Raymond langsung mengangkat tangan menghentikan semua orang. “Turunkan senjata.” “Tapi Tuan—” “SEKARANG!” Bentakan Raymond membuat seluruh anak buahnya terdiam. Perlahan, satu per satu senjata diturunkan. Thomas tersenyum puas melihat itu. “Bagus…” Namun Raymond tidak memedulikan siapa pun selain Clara. Tatapannya melembut sedikit ketika menatap wanita itu. “Clara…” suaranya rendah dan tenang, jauh berbeda dari amarah di wajahnya tadi. “Lihat aku.” Clara menangis sambil mengangguk kecil. “Aku takut, Ray…” Kalimat itu menusuk dada Raymond begitu dalam sampai napasnya terasa berat. “Tidak apa-apa,” bisiknya lirih. “Aku di sini.” Thomas langsung menatap Raymond penuh kebencian. “Kenapa?” suaranya mulai bergetar. “Kenapa dia selalu memilihmu?” Raymond tetap menatap Clara. “Karena dia mencintaiku.” Kalimat itu seperti menghancurkan sesuatu di dalam diri Thomas. Wajah pria itu langsung berubah. Retak. Marah. Dan hancur
Suara langkah kaki itu semakin jelas menggema di sepanjang lorong tangga gedung tua yang lembap dan gelap. Dentumannya berat, cepat, dan penuh amarah, bercampur dengan suara napas memburu yang memantul di dinding beton kusam. Tap. Tap. Tap. Thomas langsung menoleh tajam ke arah bawah tangga. Rahangnya mengeras seketika, sementara jemarinya mencengkeram pergelangan tangan Clara semakin kuat sampai wanita itu meringis kesakitan. Sedangkan Clara membelalak penuh harapan. Lalu suara itu akhirnya terdengar. “CLARA!” Suara Raymond mengguncang seluruh bangunan kosong itu. Tubuh Clara langsung tersentak keras. Air matanya jatuh semakin deras, sementara dadanya terasa sesak karena campuran takut, lega, dan putus asa yang datang bersamaan. “Raymond!” teriaknya tanpa sadar. Dan hanya dalam satu detik, wajah Thomas berubah mengerikan. Sorot matanya yang tadi sudah tidak stabil kini benar-benar dipenuhi emosi brutal. Ada kemarahan, kecemburuan, dan kegilaan yang bercampur menjadi sesu
“Bahkan wanita tua itu…” gumam Thomas lirih. “…Bibi Janeta.” Thomas menatap matanya dalam-dalam. “Dia tahu sesuatu tentangku.” Tatapannya berubah menyeramkan. “Dan aku takut kau akan menjauhiku.” Air mata Clara jatuh semakin deras. “Kau menghajarnya…” suaranya pecah. Thomas diam beberapa detik. Lalu perlahan ia mengangguk. “Aku tidak punya pilihan.” “Kau MONSTER!” Suara Clara akhirnya pecah menjadi jeritan. Dan detik berikutnya—BRAKK!! Tangan Thomas menghantam dinding di samping kepala Clara begitu keras sampai serpihan semen berjatuhan. “JANGAN MENYEBUTKU SEPERTI ITU!” bentaknya penuh amarah. Clara langsung gemetar hebat. Napas Thomas naik turun tidak teratur sekarang. Matanya memerah oleh emosi yang mulai kehilangan kendali. “Aku melakukan semuanya untuk melindungimu!” “Tidak!” Clara menangis histeris. “Kau hanya ingin memilikiku!” Kalimat itu membuat Thomas mendadak diam. Sunyi beberapa detik. Hanya suara angin laut dan deburan ombak yang terdengar dari luar gedung
Sebuah gedung tua berdiri di tepi pantai seperti bangkai raksasa yang terlupakan. Dindingnya dipenuhi retakan panjang dan bercak lembab berwarna kehitaman. Sebagian jendelanya sudah pecah, menyisakan kaca-kaca tajam yang masih menempel di bingkai berkarat. Angin laut menghantam bangunan kosong itu tanpa henti, menyusup masuk melalui celah-celah dinding dan menciptakan suara siulan panjang yang terdengar menyeramkan di tengah malam. Di kejauhan, ombak menghantam karang dengan keras. Brakkk… Brakkk… Suara itu bercampur dengan deru mesin mobil hitam milik Thomas yang akhirnya berhenti mendadak di depan gedung tua tersebut. Tubuh Clara langsung menegang. Matanya bergerak cepat menatap bangunan gelap di hadapannya, lalu beralih panik ke arah Thomas. “Thomas… jangan…” suaranya bergetar hebat. Namun Thomas tidak menjawab. Pria itu turun lebih dulu, lalu membanting pintu mobil sebelum berjalan memutar ke sisi Clara. Gerakannya cepat dan dingin, seolah emosinya sudah berad
"Noah… bangun… Noah…” Tubuh Clara langsung meronta liar dalam cengkeraman Thomas. Ia mencoba melepaskan diri, berusaha menerjang ke arah putranya, tetapi tangan Thomas justru semakin mengencang di pinggangnya. “Lepaskan aku!” Clara menangis histeris sambil memukul lengan pria itu sekuat tenaga. “LEPASKAN AKU! NOAH!” Namun Thomas tetap menahannya dari belakang. Napas pria itu terdengar berat di dekat telinga Clara. “Tenang…” bisiknya rendah. “JANGAN SENTUH AKU!” Suara Clara pecah. Tubuhnya gemetar hebat sampai napasnya tersengal-sengal. Di sisi lain ruangan, Bu Eli akhirnya berhasil bangkit dengan susah payah. Wanita tua itu hampir terjatuh lagi saat berlari kecil menghampiri Noah, lalu langsung berlutut dan memeluk tubuh anak itu erat-erat. “Noah… Sayang..." Tangannya gemetar saat menyentuh wajah kecil yang pucat itu. Wajah Bu Eli langsung kehilangan warna. “Ya Tuhan…” suaranya pecah pelan. Air mata mulai jatuh di pipinya ketika ia mengangkat kepala dan menatap Thomas denga
Malam menjelang tengah malam. Di dalam kamar yang remang, Raymond duduk terpaku di sofa, tubuhnya masih terbalut kimono handuk putih yang sedikit basah. Matanya menatap tajam ke arah pintu.Tak lama, suara ketukan pelan di pintu memecah keheningan.Tok. Tok. Tok."Masuk," ucap raymond cepat.Pintu
Adrian masih memegang tangan Clara ketika tawa kecil tiba-tiba lolos dari bibirnya. Ia melepaskan genggamannya perlahan, lalu bertepuk tangan pelan, seolah baru saja menyaksikan pertunjukan menarik. Setelah itu ia melangkah mendekat dan menepuk bahu Raymond dua kali.“Raymond, maafkan aku,” ujarnya
Adrian menatap Ken lama, dengan sorot mata yang tajam dan penuh hitung-hitungan. Udara di sekitar mereka seolah membeku. Ujung pistol itu masih dingin di dahi Ken, membuat denyut nadi Clara melonjak. Jari-jarinya gemetar saat menahan napas, takut satu gerakan kecil saja akan memicu sesuatu yang tak
Pria itu berhenti tepat di depan Clara, jaraknya cukup dekat untuk membuat gadis itu menahan napas. Tatapannya tenang, tapi ada sesuatu di sana—tajam dan menimbang.“Aku Adrian,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan matang. “Adrian Khil. Rekan lama Raymond.”Ia mengulurkan tangan, gerakannya santa







