Nama itu masih menggema di kepala Raymond bahkan setelah ia membuka mata. Nama yang tak pernah ia ucapkan lagi. Ia menegakkan tubuh, menarik napas dalam, lalu bangkit, melangkah ke sisi jendela. Tatapannya kosong dan dingin. Beberapa jam berlalu, Clara baru saja pulang dari kampus. Raymond yang sedang membaca koran reflek memanggilnya. “Kau—,” Namun terhenti.Clara menoleh. “Ya, Tuan?” Raymond terdiam, ia menundukkan pandangan lalu mengangkatnya kembali. “Aku tak memanggilmu,” ucapnya dingin lalu kembali membaca koran dengan wajah serius. “Oh, iya,” balas Clara, ia kembali berjalan menuju lantai atas. Sudut mata Raymond diam-diam menatap Clara sekilas lalu kembali pada korannya. Ken menggaruk kepala, heran. Keesokan harinya, saat Clara sarapan, secangkir teh hangat dan makanan kesukaan Clara sudah ada di meja sebelum ia duduk. Namun Raymond tak ada di sana. “Tuan Ray kemana, Bu?”“Tuan ada pekerjaan, sarapanlah, Tuan Ray menyuruhku menyiapkan sandwich untuk sarapan.”Clara ter
Terakhir Diperbarui : 2026-02-18 Baca selengkapnya