Belum sempat tanganku yang lemas bergerak untuk meraih benda pipih itu, sebuah tangan besar yang kokoh sudah lebih dulu menyambar ponselku dengan gerakan kilat. Argan, yang terbangun dengan wajah kaku dan rambut berantakan, menatap layar ponselku dengan sorot mata yang berubah menjadi sangat dingin dan tidak bersahabat."Bapak jangan matikan hp saya, itu editor saya yang menelepon," protesku dengan suara serak khas bangun tidur, berusaha bangkit dari bantal.Argan sama sekali tidak menggubris protesku, dia justru menekan tombol tolak panggilan dengan ibu jarinya yang kuat, lalu menahan tombol daya hingga layar ponselku benar-benar gelap total."Sekarang ponsel ini sudah mati dan tidak akan ada yang mengganggu istirahat kamu lagi," ucap Argan datar sambil memasukkan ponselku ke dalam saku celana bahan kain yang dipakainya tidur.Dia berdiri tegak menjulang di samping tempat tidur, menghalangi cahaya matahari pagi yang mencoba masuk lewat celah gorden.
Last Updated : 2026-02-11 Read more