"Hanya kamu yang bisa bilang begitu setelah melihat saya mengamuk, Nara," balas Argan dengan senyum getir."Karena saya tahu Bapak yang sebenarnya. Bapak yang merawat saya saat sakit dan mencucikan baju saya," sahutku mengingatkannya pada sisi lembutnya yang lain.Argan tersenyum lebih lebar mendengar ucapanku. Dia menggeser ibu jarinya untuk mengusap sudut bibirku dengan sayang."Terima kasih sudah menghentikan saya tadi. Kalau kamu tidak gedor kaca pintu itu, mungkin tangan ini sudah mematahkan rahang Hadi dan saya berakhir di penjara malam ini," aku Argan jujur mengakui peran pentingku dalam menyelamatkan karirnya."Sama-sama, Pak. Saya juga nggak mau dosen pembimbing saya masuk penjara sebelum saya lulus skripsi," candaku mencoba mencairkan suasana tegang.Argan tertawa kecil, tawa yang terdengar tulus dan lepas. Beban berat di pundaknya seolah terangkat sedikit demi sedikit melihat reaksiku yang santai. Dia menarik tangannya dari pipiku, namun
Terakhir Diperbarui : 2026-02-15 Baca selengkapnya