LOGINSetelah itu, Kakek Trido mengeluarkan sebuah jimat dan membakarnya sampai habis, lalu melarutkannya dalam air dan menyuruhku meminumnya."Minum air jimat emas ini. Entah itu serangga ilmu hitam atau kutukan apa pun, semuanya tak akan lagi berpengaruh padamu."Benar saja, setelah aku meminumnya, kalung itu tiba-tiba mengendur dan bisa dilepas dengan sangat mudah.Kakek Trido menempelkan sebuah jimat pada liontin kalung itu, lalu berkata sambil tersenyum lebar, "Anak serangga ini, kucingku Noxy paling suka memakannya. Begitu anak serangga mati, baik orang yang memasang serangga dan induk serangga juga pasti akan terkena serangan balik.""Nak, kamu nggak perlu khawatir. Pergilah lakukan apa yang harus kamu lakukan."Setelah itu, kucing hitam Kakek Trido mengeong malas, seolah berkata, "Serahkan saja padaku."Setelah Kakek Trido menyelesaikan semua itu, Nenek dan Ibu juga sudah menyiapkan makanan.Kami berlima makan dengan gembira, lalu Kakek Trido pun menggendong Noxy dan pergi....Keeso
Beberapa saat tak ada jawaban dari seberang, aku pun segera menutup telepon.Saat aku masih tenggelam dalam pikiranku, Nenek dan Ayah membawa pulang seorang tamu.Kakek tua itu berambut putih penuh, memegang pipa rokok kuno, dan seekor kucing hitam legam mengikuti di belakangnya."Trido, ini cucu kesayanganku, cepat bantu periksa dia, apa ada sesuatu yang menempel padanya?""Nak, ini yang Nenek maksud orang pintar itu, panggil saja Kakek Trido."Nenek menyambut kakek itu masuk ke dalam rumah, wajahnya penuh kekhawatiran saat menatapku.Entah hanya perasaanku atau bukan, sejak kucing hitam itu masuk bersama Kakek Trido, matanya terus menatapku tanpa berkedip.Aku pun menurut dan menceritakan semua kejadian aneh yang terjadi akhir-akhir ini kepada Kakek Trido, satu per satu tanpa tersisa.Termasuk bagaimana kodeku dicuri, pikiranku ditiru, bahkan ide yang baru saja muncul di benakku pun bisa dirasakan oleh Ruvina.Namun, aku menyembunyikan soal reinkarnasi."Jadi, Nak, pikiranmu dicuri o
Para rekan setim yang sebelumnya masih menyanjungnya satu per satu segera membuka suara dan meluapkan amarah.[Sungguh aku nggak habis pikir, tinggal satu jam lagi sebelum lomba, program Ruvina malah muncul BUG, bahkan menghapus otomatis program pendukung yang sudah kami buat. Dia mengkhianati kami semua!][Benar! Kerja keras sebulan penuh kami dihancurkan olehnya. Kami suruh dia sendiri memperbaiki BUG-nya, tapi dia sama sekali nggak paham, malah menulis beberapa baris kode yang salah, sampai programnya benar-benar nggak bisa dijalankan lagi!""Sial, aku sangat curiga kalau sebelumnya dia cuma menyalin, makanya sekarang bahkan kode dasar saja nggak bisa!""Tolong deh, ada nggak sih ahli hebat yang bisa bantu selesaikan ini, aku sudah mau gila!"Nyinyiran di Instagram makin menjadi-jadi, dan para penonton gosip pun langsung ikut nimbrung."Kalian baru tahu sekarang? Sebelumnya sudah ada yang bocorkan kalau dia bisa masuk Universitas Oaklin karena orang tuanya profesor dan menyuap pihak
Setelah memberi tahu Suvian agar tidak memakai ideku, aku pun berbaring di kursi goyang di halaman sambil memikirkan cara yang harus kutempuh.Langit berbintang di pedesaan begitu jernih, titik-titik cahaya berkilau di dalamnya, seakan memberi arah bagi orang yang tersesat.Saat itu Nenek datang sambil menggendong separuh semangka dan bertanya, "Cucuku sayang, sedang pikirkan apa? Kok melamun begitu."Melihat wajah Nenek yang penuh kasih, aku masih tak berani membuka mulut. "Nek ...."Mendengarnya, Nenek tersenyum lalu mengipasi aku dengan kipas daun di tangannya."Cucu, kamu tak bisa menyembunyikannya dari Nenek. Katakan, akhir-akhir ini sebenarnya ada apa?"Nada suaraku rendah dan tercekat."Nek, aku nggak tahu kenapa, barang-barang milikku selalu entah bagaimana direbut orang lain, lalu orang itu malah berbalik menuduh dan mencelakaiku.""Apa pun yang kupikirkan, dia selalu memikirkan hal yang sama denganku, seperti ... seperti ...."Nenek termenung sejenak, lalu segera berkata, "Se
Ketika aku menunduk dan menulis kode sampai senja, Nenek membawakan semangkuk sup buntut yang harum, sambil tersenyum menatapku."Cucu-ku sayang, sesibuk apa pun kamu tetap harus makan. Ini sup buntut yang Nenek masak khusus, cepat cicipi."Aku menutup laptop, meregangkan badan dengan senang. "Terima kasih, Nek, aku sudah ngiler."Sejak kecil aku memang suka masakan sup buntut Nenek. Rasa pedasnya pas, sup yang kaya rempah dengan sumsum tulang begitu harum, benar-benar istimewa. Sayangnya sejak masuk kuliah, jarang sekali aku punya kesempatan memakannya lagi.Aku mengangkat potongan daging buntut dengan tangan dan hendak menggigitnya, tetapi Nenek menepuk tanganku dan menyodorkan sehelai handuk."Kucing kotor, cepat lap tanganmu dulu baru makan!"Aku tersenyum sambil mengelap tangan, tetapi saat itu layar ponselku menyala.Saat kubuka, ternyata kolom komentar kembali heboh.Tak lama setelah aku selesai menelepon Suvian, Ruvina kembali mengunggah kode programnya. Seperti yang sudah kudu
Hari kedua.Kami sekeluarga bertiga naik kereta cepat selama sembilan jam, lalu lanjut dua jam naik bus, hingga akhirnya tiba di rumah Nenek.Begitu sampai di pintu masuk desa, nenek sudah menuntun seekor anjing hitam besar keluar untuk menyambut kami."Aduh cucuku sayang, akhirnya mau pulang menjenguk nenek. Kok kelihatan makin kurus?""Nek, aku sangat merindukanmu!"Dengan tak sabar aku memeluk Nenek, menghirup aroma kehangatan dan kelembutan seperti sinar mentari dari tubuhnya, dan tersedu beberapa kali.Nenek mengira aku ketakutan melihat anjing hitam besar itu, lalu buru-buru memarahinya."Bruno, jangan menggonggong! Kalau cucuku sampai ketakutan bagaimana!"Di tengah tangisan, tawaku segera meletus. Aku menyeka mataku, lalu mengusap kepala Bruno."Nek, aku nggak apa-apa, cuma terlalu kangen Nenek dan Bruno."Namun tindakanku tidak menenangkan Bruno. Biasanya dia penurut, tetapi kali ini ia menggonggong ke arahku terus-menerus, melompat-lompat sambil mengais tanganku dengan cakarn







