Tangan Arumy berkeringat dingin, bibir pucatnya terbuka mencari-cari udara ditengah sesak yang memenuhi dada. Jawaban dari dokter telah membuatnya kembali berkecil hati.Disaat Arumy mencoba mengoptimiskan diri, meyakini bahwa semua akan baik-baik saja, meski badai hidup telah menghantam, membawanya terombang-ambing hingga hampir menenggelamkan, cobaan lain justru datang menyusul, menimpa tanpa jeda.Hidup kembali mengujinya, bahkan sebelum ia memulai apapun untuk bangkit.Arumy menoleh, memandangi bulu mata lentik Bjorn yang membingkai iris birunya. Tatapannya lurus dan dingin, namun tangannya yang gemetar dan terkepal erat di bawah meja mengkhianati apa yang ia tunjukan.Arumy pengakuan apapun, Arumy bisa merasakan kekhawatirannya. “Kapan waktu yang tepat untuknya operasi?” tanya Bjorn.“Selama Nona Arumy tidak mengeluh mual, gangguan bicara, dan sakit kepala berlebihan. Operasi bisa dipersiapkan, Pak.”“Dokter…” Arumy menarik napas dalam-dalam, melanjutkan apa yang ingin ia ucap
Read more