Pangeran Bramantya berjalan menuju ruang kerjanya. Ia harus membuat surat pengangkatan Arya dan menyebarkannya pada seluruh penjuru negeri. Rakyan dengan setia menemani Bramantya.“Rakyan, apakah aku ini Raja yang lemah?” tanyanya pelan setelah duduk di kursi. Pandangannya seperti jauh menerawang. Berharap semua yang terjadi adalah mimpi belaka.Tiba-tiba, bayangan masa kecil hingga masa remajanya terlintas di pikiran. Saat bermain bersama mendiang Raja, Mahardika, dan juga Arya. Saling bercanda dan menjaga. Kemudian, saat mereka menikah dan memiliki pasangan, meski Arya sudah berubah dingin, suasana mulai cair saat Nirmala datang. “Rasanya, baru kemarin aku dan kedua saudaraku berlarian di pacuan kuda mengikuti Ayahanda. Kini, satu per satu mereka pergi, dan aku pun harus meninggalkan istana,” lanjut Bramantya dengan nada pelan.Rakyan tak menjawab, ia hanya mendengarkan keluh kesah sang pangeran. Ia tahu menjadi pewaris kerajaan tidaklah mudah. Apalagi, di tengah rebutan kekuasaan
Read more